Selasa, 05 April 2016

Candi Borobudur, 1994-2016




BOROBUDUR, 1994-2016

Borobudur, jelaslah merupakan kebanggaan bangsa Indonesia. Sudah sejak sekolah dasar, saya mendapatkan pengetahuan tentang keberadaan candi ini yang disebut-sebut sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Borobudur, dimuat dalam pelajaran Sejarah, atau lebih luas disebut Ilmu Pengetahuan Umum, ketika itu.

Alhamdulillah, dua kali saya berkunjung ke candi ini. Pertama, tahun 1994, merupakan bagian dari perjalanan liburan dalam rangka Idul Fitri, menempuh perjlanan dari Malang pulang kampung ke Pangalengan, Bandung Selatan. Saat itu, kemegahan Borobudur sudah tampak, tapi pengelolaannya masih amat sederhana. Meskipun demikian, sudah tampak pula bahwa candi agung ini dapat menebarkan kemaslahatan bagi penduduk sekitar yang berdagang cindra mata, makanan, minuman, bahkan foto langsung jadi, sekaligus menawarkan sebagai pemandu wisata. Lokasi parkir dan pasar cindra mata amatlah dekat dengan lokasi candi, dapat dijangkau dengan jalan kaki begitu saja. Saat itu kebetulan keluarga saya bertemu dengan teman lama suami-istri Iyus Yusuf dan Lia, beserta keluarganya.

Kini, 22 tahun kemudian, rupanya Borobudur sudah banyak berubah, terutama di bagian luar dengan cara pengelolaan yang profesional pula, ... dan karenanya pengunjung harus merogoh kantong lebih dalam. Perjalanan pun menjadi lebih jauh dari pintu gerbang pembelian karcis hingga ke lokasi candi, sehingga disediakan andong bermesin dengan beberapa gerbong penumpang. Demikian pula, para penjaja jasa, penjual makanan dan cindra mata, kini sudah dilokalisasi dengan tertib, yang dapat dipastikan harus dilewati pengunjung karena jalurnya memang sudah diatur sedemikian. Yang mengherankan, harga-harga barang yang dijajakan sepertinya semakin murah menjelang keluar areal pasar. Jelasnya, begitu mau pulang, kita harus pandai-pandai menawar belanjaan, atau tunggulah belanja hingga menjelang keluar dari areal pasar. Secara umum, barang-barang yang ditawarkan tersebut relatif murah. Selain itu juga disediakan tontonan visualisasi Borobudur di Gedung Informasi; -- sayangnya pada waktu saya berkunjung tak sempat menikmati sajian tersebut.

Dengan perjalanan wisata di hari kerja, suasana jalan tidak terlalu ramai, sehingga saya dapat menjangkau Borobudur tak sampai sejam dari pusat kota Yogyakarta, dengan menggunakan kendaraan roda empat. Sayang sekali, dengan waktu yang sempit, serta terhalang cuaca mendung dan hujan, maka perjalanan seharian itu hanya bisa mengunjungi Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Prambanan. Keinginan untuk berkunjung ke Candi Ratu Boko, tampaknya harus diendapkan sebagai “hanca” untuk perjalanan kemudian.

Suatu hal yang merupakan pengetahuan “baru” bagi saya, adalah penjelasan dari petugas Museum, bahwa konstruksi Candi Borobudur ternyata dibentuk dengan menggunakan “kunci” yang berbeda untuk setiap tingkatan. Masih-masing bagian konstruksi tidak direkat dengan semen misalnya, melainkan “kunci” tersebut. Bentuk dan model “kunci” tersebut macam-macam. Sebagai contoh, ditunjukkan pada saya, bahwa untuk bisa membuka bagian bawah candi, terlebih dahulu harus membuka bagian yang lebih atas, karena sang “kunci” terdapat di bagian itu (di bagian atas); ... demikian seterusnya. Teknologi yang luar biasa untuk ukuran masa itu.

Candi Borobudur berada di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang, sekitar 15 km arah selatan kota Magelang. Candi ini berada di dataran berbukit yang hampir seluruhnya dikelilingi oleh gunung. Di baratnya ada Gunung Merbabu, sedangkan Gunung Merapi itu letaknya tepat di selatannya persis Gunung Merbabu. Tepat di Selatan agak ke Barat sedikit ada komplek pegunungan Menoreh dengan salah satu puncak tertingginya adalah Suroloyo. Juga sama halnya dengan Sumbing dan Sindoro, rupanya gunung serupa namun tak sama ini letaknya berjejer. kalau kita lewat arah Temanggung ke Wonosobo maka kita akan disuguhi pemandangan di kanan dan kiri jalan masing-masing berupa gunung, dan itulah Si Ndoro dan Mas Sumbing. dan letak jalur tersebut adalah di utara arah Barat Candi Borobudur.

Sir Thomas Stamford Rafless adalah orang pertama yang menemukan puing-puing bebatuan tua dalam jumlah banyak di sekitar wilayah Magelang. Gubernur Jendral Inggris inilah yang memimpin Indonesia pada masa peralihan penjajahan dari Belanda ke Inggris tahun 1811-1816. Dialah orang pertama yang menguak asal-usul Candi Borobudur yang awalnya tertimbun tanah.

Rafless kemudian memerintahkan anak buahnya untuk meneruskan pekerjaannya, tetapi karena kesibukan perang maka pekerjaan ini akhirnya terbengkalai. Pada tahun 1835, proses pengangkatan Candi dilanjutkan oleh Hartman, Gubernur Jendral Belanda. Ia mengerahkan banyak pekerja untuk membongkar dan menghilangkan semua penghalang yang menutupi tumpukan bebatuan di sana. Ia mengusahakan pembersihan menyeluruh dari puing-puing yang mengotori candi. Namun demikian, saat itu Candi Borobudur belumlah berbentuk sempurna. Banyak bagian yang gompel, hilang, dan rusak karena ditelan zaman.

Pada tahun 1907-1911, di bawah pimpinan Van Erf, Belanda mulai melakukan pemugaran yang memang belum sempurna. Pemugaran dilakukan dengan teknologi konvensional, sehingga reliefnya belum terbentuk seperti aslinya. Pemugaran Candi Borobudur ini hanya sebatas menghindari kerusakan-kerusakan lebih lanjut dengan memindahkan batuan-batuan yang rentan runtuh. Dia berjasa bagi bangsa Indonesia karena menyelamatkan peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia dari kerusakan yang lebih parah.

Dalam suasana negara yang diliputi dengan peperangan dan perjuangan kemerdekaan,  tak banyak upaya pemugaran yang berarti. Seiring berjalannya waktu, saat kondisi negara mulai membaik, pada 10 Agustus 1973 dilakukan pemugaran di masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Pemugaran dipimpin oleh Dr. Soekmono dibantu oleh sekitar 600 pekerja muda lulusan SMA dan STM bangunan yang sebelumnya sudah diberikan pendidikan dan keterampilan khusus tentang bidang Chemika Arkeologi (CA) dan Teknologi Arkeologi (TA). Mereka asli putra-putri Indonesiai, tak satu pun tenaga ahli dari luar negeri. Pemugaran diselesaikan pada 23 Februari 1983.

Saat Ini Candi Borobudur setiap tahunnya dikunjungi oleh lebih dari empat juta wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Borobudur jelaslah aset bangsa yang membuat bangga.

Bogor, 5 Maret 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar