Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Agustus 2021

“Salju” di Kampus Baranangsiang

Kenangan Masa Kuliah (1)

Oleh: Tika Noorjaya (A13.405)

Kampus Baranangsiang selalu indah untuk dikenang. Halamannya, bangunannya, tanamannya, tempat parkirnya, ... dan terutama orang-orangnya. Keindahan ini sudah saya rasakan sejak masih sekolah di SMA. Waktu itu, kalau pas melintas di Jl. Pajajaran dan melihat gedung itu, sering terbersit keinginan untuk menjadi penghuninya. Alhamdulillah, akhirnya terlaksana.

Halaman depan Kampus Baranangsiang ditutupi hamparan rumput hijau yang terawat rapi. Biasa digunakan untuk upacara-upacara, termasuk pelantikan sarjana. Latihan Resimen Mahasiswa (Menwa), Latihan Beladiri, Baris-berbaris, biasa juga dilakukan di sana. Oh ya, waktu perjuangan mahasiswa tahun 1997/1978 juga banyak kegiatan dilaksanakan di sana.

Tapi yang cukup mengesankan di halaman Kampus Baranangsiang adalah “hujan salju”. Memang bukan salju sungguhan, melainkan salju dalam angan-angan. Ya, dulu di situ banyak pohon kapuk randu. Ketika musimnya tiba, serat-serat kapuk randu terlepas dan ditiup angin beterbangan. Udara penuh dengan serat-serat putih, yang akhirnya terdampar di rerumputan sebagai “salju”. Embun pagi menambah indahnya suasana. Itulah keindahan yang sering saya nikmati dari ventilasi Ruang Kuliah Botani.

Begitu memasuki pintu gerbang, dulu tak ada pos Satpam. Kita bisa langsung memasukkan sepeda atau sepeda motor ke tempat parkir di sebelah kiri. Parkir mobil? Harus jalan terus ke arah kanan. Tetapi, waktu itu pemilik mobil amat langka, dosen sekalipun masih banyak yang naik bemo atau jalan kaki, apalagi mahasiswa.

Bangunan yang dirancang oleh F. Silaban itu diawali dengan Ruang Kimia. Tapi sebelumnya harus melewati prasasti pendirian IPB yang ditandatangani oleh Presiden Sukarno pada 27 April 1952. Di halaman depan Ruang Kimia sejak dulu dipenuhi dengan spandoek, seperti sekarang, yang kerap kali terasa merusak pemandangan.

Bangunan kedua adalah Ruang Botani, di situlah saya banyak menghabiskan waktu untuk kuliah. Ke sebelah kanan lagi ada Ruang Fisika. Di halaman depan kedua ruang kuliah itu relatif bersih, karena di depannya ada plang “Institut Pertanian Bogor” yang cukup besar. Banyak mahasiswa-mahasiswi yang suka nampang di sana.




Jalan terus ke arah kanan kita akan bertemu dengan Kantor Pusat IPB, tempat pimpinan IPB berkantor. Seingat saya, tak banyak ruangan di situ yang menggunakan AC. Oh ya, di dalamnya ada Perpustakaan Pusat, yang koleksi bukunya cukup banyak termasuk thesis dan disertasi Mahasiswa Pasca Sarjana. Tempat yang nyaman untuk mencari referensi, apalagi petugas perpustakaannya, Euis Sartika, adalah teman saya, sesama Alumni SMAN2 Bogor.

Lebih ke kanan lagi adalah Aula Kantor Pusat (AKP), yang selain menjadi tempat seremonial juga tempat quiz/ujian.

Kampus Baranangsiang areanya cukup luas, yang memanjang hingga ke belakang. Sebagian besar ditempati berbagai jurusan Fakultar Pertanian, yaitu: Departemen Statistika & Komputasi (STK); Departemen Ilmu Tanah; Departemen Hama & Penyakit Tanaman (HPT); Departemen Ilmu Gizi & Keluarga (IGK), Departemen Sosial Ekonomi (SOSEK), dan Departemen Agronomi. Bahkan ada Fakultas Perikanan di bawah PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa), bersebelahan dengan Departemen Sosek.

Sebenarnya kompleks Kampus Baranangsiang lebih luas lagi karena dulu terdapat Ruang Kuliah P1-P6 dan Asrama Putri IPB (APIP-IPB) di sebelah Utara. Di sana ada dinamika dan perjuangan para mahasiswi untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu. Tentu saja, di sana juga ada cinta dan romantika, ... he he he.

Wisma Raya Doeloe, Hotel Royal Kini

 

Wisma Raya, adalah masa lalu Hotel Royal sekarang, yang terletak di Jl. Ir. H. Juanda nomor 16, Bogor. Dengan berada di pusat kota, dan dilalui kendaraan umum, maka asrama ini amat strategis, dekat dengan pasar dan pusat keramaian, juga tak terlalu jauh dari kampus IPB. Selain bemo yang lalu-lalang dua arah, sampai dengan tahun 1978, Jl. Juanda juga masih dilewati bus menuju ke Stanplat di Jl. Kapten Muslihat, depan Toko Dezon.





Berbeda dengan perannya sebagai hotel sekarang yang menyediakan 98 kamar, penghuni asrama Wisma Raya cuma dapat menampung sekitar 35 orang. Dengan jumlah penghuni yang sedikit, maka suasana kekeluargaan sangat erat. Banyak mahasiswa IPB yang ingin tinggal di sini karena dekat dengan kantor pos tempat mengambil wesel bulanan dari orang tua. Karena itu, untuk dapat menjadi penghuni asrama ini, mahasiswa harus sabar menunggu hingga ada alumni yang keluar dari asrama ini.

Selain memiliki kelebihannya yang strategis, Wisma Raya juga memiliki kekurangan, antara lain tidak mempunyai aula atau tempat yang cukup luas untuk menyelenggarakan suatu acara. Ruang tamu dan ruang rekreasi sewaktu-waktu bisa menjadi ruang rapat pengurus dan atau rapat penghuni, dan bisa juga disulap menjadi tempat menyelenggarakan pesta, dilengkapi dengan pesta dansa. Peristiwa apa pun bisa dijadikan dalih untuk mengadakan pesta.

Ada hal yang  patut diacungi jempol. Penghuni asrama ini setiap tahun memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Begitu matahari muncul di ufuk Timur, para penghuni telah berpakaian rapi, siap mengikuti acara pengibaran bendera sang saka merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Acara dilanjutkan dengan pembacaan teks Proklamasi, sambutan ketua Asrama, pembacaan do’a dan lain-lainnya. Setelah upacara selesai sebagian penghuni duduk-duduk santai di halaman, dinaungi oleh tiga pohon cemara, menyanyikan lagu-lagu perjuangan diiringi petikan gitar salah seorang penghuni.

Jl. Prof. Dr. H. Andi Hakim Nasoetion

 

Sejak tiga tahun yang lalu, di Bogor ada jalan baru, namanya Jl. Prof. Dr. H. Andi Hakim Nasoetion. Doeloe, jalan ini dikenal sebagai Jl. Rumah Sakit II (RS II), yang letaknya pas di sebelah kampus Baranangsiang IPB, yang memanjang hingga ke Jl. Malabar bagian belakang. Itulah route jalan yang dilewati oleh bemo dari Pasar Bogor ke Jl. Gunung Gede atau Jl. Pajajaran.




Proses pemberian nama jalan tersebut melalui perjalanan panjang. Di antara tiga orang pengusul, salah satunya adalah Asep Saefuddin, mahasiswa IPB Angkatan 13 ASTAGA, yang kini Guru Besar IPB dan Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia.

Jalan ini diresmikan 3 Juni 2017, bertepatan dengan ulang tahun kota Bogor yang ke-535. Acara dimeriahkan dengan drum band Sekolah Tinggi Teknik Pertanian (d/h Sekolah Pertanian Menengah Atas), di mana Pak Andi pernah sekolah. Ada juga paduan suara Sekolah Kesatuan, di mana Pak AHN pernah menjadi ketua yayasannya. Ada paduan suara Agriaswara IPB yang telah mendunia, dan ada pula penyanyi seriosa dan keroncong IPB yang menggetarkan hati penonton dengan lagu-lagu yang dibawakannya. Puisi juga dipersembahkan kepada Pak AHN oleh anak-anak Sekolah Kesatuan.

Meskipun kegiatan administratif dan perkuliahan IPB sebagian besar dipusatkan di Kampus Darmaga, namun Jl. Prof. Dr. H. Andi Hakim masih tetap ramai, karena masih ada sejumlah lembaga yang berkantor di Kampus Baranangsiang. Ada juga Cafe Taman Koleksi, yang seringkali menjadi ajang nostalgia dan pertemuan para alumni. Bahkan, masyarakat pun biasa memanfaatkan Cafe Taman Koleksi untuk berbagai keperluan.

Di bagian kanan jalan, yang dulu merupakan perumahan dosen dan tempat kost para mahasiswa, kini telah beralih fungsi menjadi tempat kuliner. Misalnya, persis di sebrang gerbang masuk, ada The Third Wave Coffee Company. Selain nyaman, cafe ini juga menyediakan mushola.

Dengan keberadaan jalan ini, semoga menjadi pengingat kenangan atas jasa dan pelajaran dari Pak Andi. Aamiin.

Selasa, 15 Januari 2019

YOGYAKARTA: Sendratari RAMAYANA

Sendratari RAMAYANA
Pagelaran sendratari di bawah bulan purnama di Candi Prambanan tetaplah penuh pesona, sekalipun rembulan lebih banyak bercumbu dengan gumpalan kabut.
Tata lampu yang apik berhasil mengubah suasana menjadi penuh sensasi. Sedikit canda, menyegarkan suasana.
Dibanding 22 tahun lalu, Hanoman Obong tetap merupakan episode paling mengesankan, sekalipun kolosalitas pelakon tak lagi terekpos. Jumlah pemain rasanya banyak berkurang.


SUKABUMI: Curug Sawer

Curug Sawer sudah lama dikenal, dan kini semakin tenar, terutama setelah keberadaan Jembatan Gantung Situgunung, yang hanya berjarak sekitar 300 meter saja. Jadi ini merupakan destinasi lanjutan yang selayaknya disambangi.
Sambil menuruni jalan berundak, di kiri-kanan tersaji pepohonan yang indah dan tertata rapih, beberapa kali melewati jembatan kecil yang cocok untuk berfotoria.


Kawasan wisata ini terletak sekitar 10 km dari jalan poros Sukabumi-Bogor, dengan jalan yang mulus, dan bisa dijangkau cukup 15-20 menit saja. Lokasinya terdapat di ketinggian 1.000-1.300 mdpl, masuk wilayah desa Sukamaju, kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi.
Nama "Curug Sawer" menggambarkan besarnya percikan air curug. Meskipun jauh dari air terjun, tubuh kita tetap basah oleh percikan airnya yang dingin-dingin seger. Brrrr.

SUKABUMI: Maksi di tepi DANAU SITU GUNUNG

Maksi Aatau Makan siang di tepi danau Situ Gunung kemarin sungguh seru dan amat berkesan.
Untuk mencapai tepi danau, rombongan harus berjalan sekitar 200 meter di jalan yang licin dan menurun, tak lupa membawa makanan dan minuman yang akan disantap, termasuk blek kerupuk, yang saya pikul. Wk wk wk.


Makanan di-share oleh teman-teman. Jenisnya nano-nano, dan jumlahnya jauh melampaui kebutuhan. Pete dan jengki, di antaranya.
Makan bersama gelar tikar di tepi danau seperti ini bagi kami, dan saya khususnya, rasanya sudah luammaa sekali tak teralami.
Waktu kembali, kami disarankan melewati jalan pintas, jalan setapak yang tanjakannya amat sangat terjal. Haduhhh.
Anyway, inilah makan siang yang penuh sensasi dan semakin mengakrabkan kekeluargaan SMILE WOKE. Terima kasih atas kebersamaan yang indah ini.

SUKABUMI: JEMBATAN GANTUNG Situ Gunung


Dengan panjang 243 meter, lebar 2 meter, dan ketinggian maksimal 146 mdpl, konon Jembatan Gantung Situ Gunung merupakan jembatan gantung terpanjang se Asia Tenggara.



Terbebas dari phobia ketinggian, sambil membakar adrenalin, kami lulus uji nyali, dan dengan leluasa berselfi ria di lintasan jembatan yang kadang bergoyang-goyang itu. Hanya saja, jangan coba-coba melihat ke bawah, karena tiba-tiba pandangan berbayang, berkunang-kunang. Saya sudah membuktikannya !!!



____
Terletak di kaki Gunung Gede Pangrango, dari Bogor kami hanya perlu sekitar 2,5-3,0 jam perjalanan mobil roda empat berkat kehadiran tol Ciawi-Cigombong, yang mulus dan masih gratis-tis.

Memang harus diakui, panorama di jembatan gantung ini dan sekitarnya sangat indah, apalagi dalam cuaca cerah, tanpa hujan, kami dapat menikmati destinasi lanjutan ke Curug Sawer dan Situ Gunung. Wowww.

JAKARTA: Pelabuhan Sunda Kelapa Anno 1527

Pelabuhan Sunda Kelapa sudah dikenal sejak di SD, namun baru kali ini kami sempat mengunjunginya. Kami mengenalnya sebagai pelabuhan tertua di Indonesia yang awalnya dikuasai Kerajaan Tarumanagara, namun kemudian memjadi rebutan berbagai pihak.


Konon, selain para pedagang Nusantara yang berdagang di pelabuhan ini, banyak juga para pedagang asing yang singgah seperti dari Tiongkok, Arab, India, Inggris dan Portugis.
Tepatnya pada 22 Juni 1527, pasukan gabungan Kesultanan Demak-Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah berhasil menguasai Sunda Kelapa lalu mengubah namanya menjadi Jayakarta. Peristiwa ini kemudian diingat sebagai ulang tahun Kota Jakarta.

PERPUSTAKAAN Bank Indonesia

Inilah syurga bagi para pecandu buku. Tepatnya di Kantor Pusat Bank Indonesia Gedung B Lantai 2. Dengan ruangan yang lapang (lebih dari 1.500 m2) dan suasana asri, 80 ribu lebih koleksi buku siap disantap. Sejauh ini sebagian besar pengunjung adalah pegawai BI, sekalipun terbuka untuk masyarakat setiap hari kerja pada pkl 07.10-17.00 WIB. Jam istirahat pun tetap buka. Wow !!!


Koleksi bukunya dibagi dua. Sebelah kiri untuk buku-buku umum, dalam berbagai denominasi sesuai dengan klasifikasi Dewey. Sebelah kanan untuk buku-buku hasil riset para pegawai, termasuk berbagai jurnal, laporan, dan statistik perkembangan ekonomi.
Perpustakaan ini bebas Wifi dan dilengkapi dengan perpustakaan maya (iBI Library), yang bahkan bisa "dipinjam" selama seminggu (setelah anda menjadi member).
Kalau anda ingin berdiskusi bersama teman-teman, tersedia beberapa ruangan kedap suara, sehingga tidak mengganggu pengunjung lain.
Oh ya, perpustakaan ini menyediakan dispenser untuk menyeduh kopi atau teh. Anda bisa menyeduh sendiri, atau minta bantuan petugas.
Sungguh, kita akan betah berlama-lama berada di perpustakaan yang nyaman ini.

Jumat, 29 Desember 2017

MADURA: Garam Asin, Bisakah Berbuah Manis?


Mengamati ribut-ribut soal kelangkaan garam belakangan ini, saya jadi teringat bahwa 4-5 tahun yang lalu saya pernah terlibat dalam suatu penelitian singkat tentang garam rakyat.
Pada 20 Juli 2012 saya berkunjung ke Sampang, Madura, untuk melihat peta permasalahan garam serta melihat langsung bagaimana proses produksinya di lapangan. Hasilnya? Seperti sekarang, saat itu ditengarai ada upaya untuk conditioning impor garam dengan menghembuskan isu kelangkaan garam. Petani garamnya sendiri tak kunjung menerima hasil yang layak atas kerja kerasnya.
Tahap berikutnya, melakukan uji coba aplikasi teknologi tepat guna Garam Solusi (Ramsol) di Cirebon (Maret 2013). Teknologi ini dapat meningkatkan produktivitas sekitar 80%, dari 100 ton/ha menjadi 180 ton/ha didukung teknologi Geomembrant yang dapat meningkatkan kualitas garam (lebih putih bersih dan mengkristal keras). Karena itu, hasil analisis usahanya pun sungguh berlipat.


Dengan performa awal seperti itu saya sampai pada kesimpulan optimistis. Begini: "Di masa depan yang dekat, membuat garam cukup di halaman rumah... Teknologi sederhana ... namun bisa jadi solusi konkrit bagi peningkatan pendapatan petani. Tataniaga garam yang temaram, boleh jadi akan terterangi. Semoga!!!" (Lihat link postingan Facebook 20 Maret 2013).
____
Semoga pemanfaatan teknologi Ramsol dan Geomembrant ke depan terus dikembangkan dan diperluas ke wilayah-wilayah produksi yang lain. Melalui teknologi itu, petak-petak garam bahkan bisa dipasang di halaman rumah. Karena terkontrol, boleh jadi masa produksinya juga tidak akan terlalu terkendala oleh musim seperti sekarang ini, sehingga fluktuasi produksi dan harga dapat diatasi.
Tentu saja, selain aspek teknis produksi tersebut, perlu membenahi sistem tataniaganya, agar jerih payah petani garam dapat dihargai selayaknya.
_____
Garam yang asin, siapa tahu suatu ketika akan berbuah manis. Semoga.

OPOSUM

Oposum layang (Petaurus breviceps) adalah sejenis mamalia berkantung asli Indonesia. Berbulu lebat, berwarna coklat keabu-abuan, serta bertubuh mungil (sekitar 12-32 cm dengan panjang ekor 15-48 cm). Bobotnya cuma 4-6 ons, dan terlihat unik dengan kantong yang berada di bagian perut.


Dalam beberapa tahun belakangan ini muncul tren pemeliharaan oposum layang di masyarakat perkotaan. Di pasaran, konon, harganya bisa mencapai Rp3-15 juta/ekor.
Guna melestarikan satwa berkantong asli Indonesia ini, Program Biovillage Pusat Penelitian Biologi-LIPI Cibinong sedang mengembangkan model budidaya oposum layang ini.

PONTIANAK: Kesultanan Kodriyah



Iniah kesultanan Melayu yang didirikan tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, di daerah muara Sungai Kapuas Pontianak.
Ia melakukan dua pernikahan politik di Kalimantan, pertama dengan putri dari Kerajaan Mempawah dan kedua dengan putri dari Kesultanan Banjar (Ratu Syarif Abdul Rahman, putri dari Sultan Tamjidillah I), sehingga ia dianugerahi gelar Pangeran.
Setelah mukim di Pontianak, ia mendirikan Istana Kadriyah dan mendapatkan pengesahan sebagai Sultan Pontianak dari Belanda pada tahun 1779.
Di ruangan dalam istana ini terkesan magis. Tamu hanya berfoto di depan kursi Sultan, tak bisa mendudukinya seperti di Istana Pagaruyung atau Istana Deli.

KELAPA MULTIGUNA



Di luar puja-puji tentang keindahan gemulai nyiur yang melambai di pinggir pantai, Nyiur atau Kelapa (Cocos mucifera) layak dimahkotai sebagai budidaya multiguna.
Dari sekian banyak tumbuhan yang tersebar di negeri ini, rasanya tidak ada tumbuhan lain selain Kelapa yang setiap komponennya tanpa kecuali dapat dimanfaatkan.
Pucuk daunnya yang disebut janur kuning, dapat digunakan sebagai hiasan atau dekorasi pesta-pesta. Daunnya yang sedikit tua dapat digunakan sebagai pembungkus ketupat yang menambah semaraknya suasana lebaran. Lepas dari daunnya, lidi dapat disusun menjadi sapu atau dipotong menjadi tusuk sate atau tusuk daun.
Ketika pohon telah berbunga, dari batang bunga dapat dideres (dihisap) airnya untuk dimasak menjadi gula jawa, sedangkan dari bunganya sendiri (manggar) dapat diolah menjadi bahan gudeg.
Kelapa muda yang disebut cengkir, dahulu digunakan untuk bahan sesaji dalam upacara adat tertentu. Air kelapa muda? Siapa yang belum pernah merasakan nikmatnya ketika diminum pada siang hari yang panas. Buahnya? Tentu saja, bahkan lebih banyak lagi manfaatnya. Selagi muda, dagingnya dapat dimakan mentah, misalnya sebagai campuran air bersih menjadi air santan sebagai bumbu masak yang lezat. Parutan kelapa dapat juga dibuat serundeng, galendo atau campuran penganan lain. Bahkan, daging buah kelapa tua dapat diolah menjadi minyak kelapa, untuk menggoreng, dan sebagainya. Kalau tidak, dapat juga dikeringkan sebagai kopra, agar tahan lama.
Di luar daging, ada tempurung dan sabut. Tempurung dapat dibuat menjadi alat minum, gayung, bahan hiasan, kancing dan sebagainya, bahkan alat bunyi bagi tarian Minangkabau. Arangnya mempunyai kalori yang tinggi, di samping dapat bertahan lama karena kerasnya. Sabutnya dapat dibuat alat-alat rumah tangga seperti kesed, sapu, tali dan sebagainya.
Batang pohonnya yang panjang dan lurus serta kuat, antara lain dapat digunakan sebagai jembatan atau saluran air.
Kelapa memang multiguna.

AMORPHOPHALLUS TITANUM



Meskipun beraroma busuk, bunga bangkai (Amorphophallus titanum) ini mengharumkan nama Indonesia.
Konon pemberian namanya yang aneh itu disebabkan bentuk bunganya yang mirip kelamin pria.
Bunga ini termasuk langka, bukan hanya karena baunya yang menyengat dan ukurannya yang super besar, tetapi juga masa berkembangnya sangat terbatas. Barusan saya lihat di Kebun Raya Bogor, bunganya sudah tak lagi tegak 100%, sekitar 40%nya sudah merunduk. Padahal, baru kemarin siang dikabarkan mulai mekar. Barangkali besok-lusa cuma tinggal batangnya saja. Konon, kita baru bisa melihatnya lagi 2-3 tahun yang akan datang. Bahkan, di beberapa tempat, konon bunganya baru berulang setiap 7-9 tahun.
Saya sendiri baru kali ini melihatnya, padahal sudah 44 tahun mukim di Bogor dan sudah puluhan kali masuk KRB. Beberapa kali ke Kebun Raya Cibodas pun tak sempat melihatnya. Begitu pula dua kali ke Bengkulu tak juga beruntung melihatnya.
Indonesia memang punya kekayaan flora yang luar biasa.

Rabu, 18 Oktober 2017

LOMBOK: Pantai Senggigi

Kembali menelusuri Pantai Senggigi adalah suatu nostalgia tentang keindahan panorama pantai, dengan air yang jernih dan bersih, serta semilir angin yang menyegarkan.


Senggigi terletak di sebelah barat pesisir Pulau Lombok, tetapi suasananya serasa berada di Pantai Kuta, Bali. Tak heran kalau wisatawan domestik dan mancanegara banyak lalu lalang di sana.



Pantainya memang menjadi daya tarik dengan pemandangan garis pantainya yang panjang, sehingga tampak indah dipandang dari kejauhan dan ketinggian. Kontur jalannya naik turun antara pantai dan perbukitan yang tak begitu tinggi namun cukup memadai untuk menikmati keindahan pantainya, seperti bisa kita saksikan dari lokasi sekitar Villa Hantu, Pantai Stangi. Demikian pula pemndangan di sekitar Malimbu, yang dapat melihat ke arah tiga pulau terkenal: Gili Trawangah, Gili Mano, dan Gili Air.

 

Sementara dari pantai kita bisa melihat keindahan panorama perbukitan. Sayangnya, cuaca sudah mulai hujan, sehingga beberapa tempat yang indah tak sempat dikunjungi. 

 

Dengan garis pantai yang panjang, Pantai Senggigi menyuguhkan gradasi warna pasir pantai dari hitam hingga putih, meski tak putih-putih amat. Air lautnya jernih dan bersih dengan riak ombak yang kecil. Pantai Senggigi adalah objek wisata menarik bagi orang-orang yang menyukai laut sebagai pilihan destinasi untuk rekreasi. 

Senggigi hanya berjarak sekitar 16 km dari pusat kota Mataram sebagai ibokota Provinsi NTB. Kalau dihitung dari bandara internasional Lombok Praya sekitar 50 km, dengan perjalanan darat yang lancar sekitar satu jam.

Tak pelak, perjalanan ke Senggigi menghadirkan pengalaman wisata pantai yang mengundang rindu untuk mengulangnya.

  

Senggigi 1999 (kiri) dan 2017 (kanan)

LOMBOK: Pulau Seribu Mesjid

Dikenal sebagai "Pulau Seribu Mesjid", nyatanya di Pulau Lombok terdapat sekitar 5.400 mesjid. Dengan luas pulau mencapai 4.725 km2, berarti setiap 0.88 km2 ada satu mesjid. Ini angka rata-rata dari tempat kosong hingga padat penduduk. Karena itu tak mengherankan kalau di perkotaan yang padat penduduk, bisa kita temukan mesjid dalam jarak yang berdekatan.


Hal itu bisa kita saksikan sejak perjalanan dari Bandara Internasional Lombok menuju pusat kota Mataram. Di kiri-kanan jalan, di tepi jalan yang dekat maupun di kejauhan, mesjid demi mesjid berdiri megah dan indah. Umumnya berukuran besar dengan kapasitas tampung yang cukup banyak, konon karena setiap komunitas selalu berkeinginan untuk memperbesar dan mempersolek mesjid. Pembangunan mesjid, konon bisa berlanjut 10-20 tahun.


Tebaran masjid juga bisa tampak jelas kalau kita berada di ketinggian seperti rooftop hotel atau perbukitan. Menara yang menjulang dan kubah yang indah dapat kita saksikan. Di malam hari, mesjid-mesjid itu berwarna-warni gemerlap dalam gelap.


Tercatat ada lima mesjid terindah di Pulau Lombok, yaitu: Mesjid Islamic Center, Mataram; Mesjid Al Akbar, Masbagik, Lombok Timur; Mesjid Kopang, Lombok Tengah; Mesjid Agung Praya, Lombok Tengah; dan Mesjid Jamiq, Selong, Lombok Timur.

Selain itu, ada juga mesjid tertua yang dibangun pada tahun 1600an, yaitu Mesjid Kuno Bayan Beleq, yang terletak di suatu bukit di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, sebagai saksi bisu masuknya agama Islam di Pulau Lombok.


Konon pula, untuk melaksanakan sholat Jumat, kadang mesjidnya digilir. Misalnya Jumat ini di kampung A, lalu Jumat berikutnya di masjid sebelahnya. Wallahu'alam.


Minggu, 30 April 2017

SUMATERA BARAT: Istana Pagaruyung


Istana Pagaruyung dan sekitarnya merupakan wisata spesial yang bersentuhan dengan sejarah dan kerajaan masa lalu, dalam kemasan budaya khas Bukittinggi, yang byukti-buktinya masih dapat dijumpai di kiri-kanan jalan. Tak lupa suguhan cerita tentang asal-usul nama "Minangkabau", yakni tentang kemenangan gudel setempat melawan kerbau besar dari Jawa. 

Istana Pagaruyung terletak di Kecamatan Tanjung Emas, Kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Diukur dari Padang (Ibukota Sumatera Barat), istana ini berjarak sekitar 108 kilometer, atau sekitar 45 kilometer dari Bukittinggi.
Keindahan Pagaruyung tidak hanya memperlihatkan keindahan istana, tetapi juga lingkungan di sekitarnya, sehingga menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Harga tiket masuknya yang terjangkau membuat istana ini diminati para pelancong. Bisa jalan sendiri, atau dipandu berbagai travel biro, yang banyak menawarkan jasa paket perjalanan saja maupun dilengkapi dengan paket kesenian tradisional Minang.

Menurut sejarah, Istana Pagaruyuang atau Istano Basa merupakan replika dari bangunan asli, yang terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis dalam kerusuhan berdarah tahun 1804. Istana tersebut kemudian didirikan kembali, namun kembali terbakar pada tahun 1966.
Proses pembangunan kembali Istano Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976. Bangunan baru ini tidak didirikan di tapak istana lama, melainkan di lokasi baru di sebelah selatannya.
Pada 27 Februari 2007, Istano Basa kembali mengalami kebakaran akibat petir yang menyambar puncak istana, sehingga bangunan tiga tingkat ini hangus terbakar. Ikut terbakar juga sebagian dokumen serta kain-kain hiasan. Diperkirakan hanya sekitar 15% barang berharga yang selamat. Barang-barang yang lolos dari kebakaran tersebut sekarang disimpan di Balai Benda Purbakala Kabupaten Tanah Datar. Adapun harta pusaka Kerajaan Pagaruyung sendiri disimpan di Istano Silinduang Bulan, 2 kilometer dari Istano Basa.




Kini bangunan Istana Pagaruyung berdiri megah, memancarkan kemewahan Tanah Minang yang kaya. Inilah istana dengan bangunan rumah adat berbentuk rumah gadang. Di dalam istana terdapat museum yang memamerkan beberapa peninggalan dari perlengkapan dan perabotan raja, singgasana raja, juga bilik putri raja dengan warna-warni yang cerah dan indah.
Apabila ingin berfotoria dengan lebih spesial, di lantai bawah istana tersebut terdapat penyewaan baju adat Minangkabau lengkap dengan aksesorisnya, cukup Rp35.000 bisa pakai sepuasnya di area istana. Saya juga melakukannya, dan dengan begitu, saya bisa berkhayal menjadi Bagindo Datuk Nugaya.

 

Sabtu, 29 April 2017

SUMATERA BARAT: Kelok-9


"KELOK-9", merupakan salahsatu tempat wisata yang indah dan paling mengesankan, sekalipun jumlah kelokannya kini tak lagi sembilan.



Jembatan Kelok-9 ini, kini menjadi kebanggan dan Landmark Provinsi Sumatera Barat. Dengan adanya Jembatan Kelok-9, Sumatera Barat semakin dikenal dan menjadi destinasi wisata yang menyajikan sensasi menyeberangi jembatan dengan dikelilingi oleh lembah dan hutan.

Sayang sekali, karena dalam perjalanan dari Pekanbaru kami banyak singgah di beberapa tempat, maka kedatangan ke lokasi itu sudah agak sore, dan senja pun mulai merayap, sehingga keindahan alam yang mempesona itu terpaksa kami tinggalkan, dengan masih menyisakan kepenasaran.



Meskipun demikian, dalam waktu yang singkat itu kami masih sempat menikmati jagung bakar yang dijajakan di beberapa warung.



Tentu saja kami tak melewatkan untuk berfoto ria. Kalau kita tak puas dengan hasil dari kamera atau HP sendiri, kita bisa minta para fotografer yang banyak berkeliaran di situ; -- sayangnya para fotografer tersebut kurang terorganisasi sehingga harganya tidak standar.
Secara geografis, Kelok-9  terletak di Payakumbuh Kabupaten Limapuluh Koto, sebagai jalan penghubung antara Provinsi Sumatera Barat dengan Riau. Konon, di masa lalu, Kelok-9 merupakan jalan yang menyeramkan bagi para pengendara karena bentuk jalannya yang curam dan berbatasan langsung dengan jurang. Namun, kini Kelok-9 tak lagi menyeramkan karena ditopang oleh 30 pilar yang kokoh dengan ketinggian 10-15 meter dan dapat menampung 14.000 kendaraan setiap harinya. Kelok-9 memiliki jembatan penghubung yang membentang meliuk-liuk dan menjadi ciri khas dari Kelok-9 itu sendiri dengan panjang 2,5 KM. Kini, orang dengan sengaja akan lebih memilih untuk melewati Kelok-9 agar dapat menikmati keindahan dan kemegahan arsitektur jalan lintas ini.



Menurut sejarah, Kelok-9 dibangun pada masa Kolonial Belanda, tepatnya tahun 1910. Namun usianya yang tua bukan berarti konstruksi bangunannya juga tua. Pembangunan ulang Kelok-9 pada tahun 2013 semakin memperkokoh keberadaan Kelok-sebagai destinasi wisata Sumatera Barat yang layak disinggahi.


Minggu, 02 April 2017

BOGOR: Resto Kluwih

RESTO KLUWIH, Bogor
Resto ini belum genap sebulan sejak diresmikan 13 Maret 2017. Namun, kehadirannya banyak mengundang orang untuk bertandang. 
Pertama, karena lokasinya yang mudah dijangkau, yakni di Jl. Binamarga II nomor 27 Bogor, berdekatan dengan gerbang tol Bogor.
 
Kedua, karena arsitekturnya yang ciamik, nampak keren di antara sejumlah bangunan yang ada di sekitarnya, apalagi di seberangnya berjejer taman-taman penjual tanaman hias, yang menambah keasrian resto ini. Dua pohon besar tidak ditebang, melainkan dipertahankan tumbuh dan berkembang di area resto, bahkan menerobos dan menjulang hingga ke lantai 2. Kedua pohon tersebut menjadi pemikat karena keunikannya, salahsatunya ya pohon Kluwih yang menjadi nama resto ini. Kluwih (Artocarpus Communis atau Artocarpus altilis) buahnya mirip sukun dan nangka. Tanaman ini sudah jarang kita jumpai, mungkin karena nilai ekonomisnya rendah atau masyarakat belum tahu cara pengolahannya.
 
  
Ketiga, penataan ruangan sangat efisien tetapi memberi ruang yang nyaman bagi orang-orang yang gemar selfie, welfie, atau berfotoria. Di lantai 1, ada tempat mainan anak dan sangkar burung besar. Untuk naik ke lantai 2, bukannya disediakan tangga, melainkan ada jalan melingkar. Di lantai 2, selain dekat dengan daun-daun kedua pohon besar itu, ada juga sangkar burung berbagai jenis; juga ada bemo, kendaraan favorit zaman baheula, yang kini ternyata sangat disukai oleh anak-anak kecil (dan anak besar juga). Oh ya, meskipun secara umum resto ini bersatu dengan alam terbuka, tapi di lantai 2 ada juga ruangan ber-AC bagi yang menginginkan.
                
Adapun menu makanan dan minumannya, saya kira biasa-biasa saja seperti kebanyakan resto Sunda, antara lain: Nasi Tutug Oncom, Soto Bogor, Nasi Bakar Jambal, Tempe Tepung, Semur Jengkol, Ayam Kalasan, Bajigur, Colenak, Es Tape Kelapa, Es Kelapa Alpukat, Es Jeruk Peras, Es Coklat, dll. Sajian yang menggoda untuk dinikmati pastilah paket liwet untuk 6-10 orang beralas daun pisang, yang sangat eksotik !!!. Sayang, kami harus kuciwa karena tak dapat menikmati paket tersebut. Khusus untuk sayur asem yang di dalamnya ada Kluwih (sebagai icon resto ini), sepertinya tak seenak buatan ibu saya doeloe. Terlalu manis, kurang asem, dan bau cabe merah. Semoga hal ini menjadi perhatian dari pengelola resto ini.

  
 

Oh ya, dengan membludaknya peminat, maka kita harus berbekal cukup kesabaran untuk menunggu pesanan datang. 

Senin, 17 Oktober 2016

MALANG: Kisah Air yang Memanjat Bukit

Ternyata akal manusia bisa melawan gravitasi. Air mengalir sekitar 1,25 kilometer dengan memanjat bukit sekitar 60 meter, melewati kebun, pematang, hutan dan sungai. Itulah produk dari sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), yang menciptakan cara hidup baru bagi sekitar 300 KK penduduk di Desa Rembun, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. 





Air sungai yang deras digunakan untuk menghidupkan turbin. Tenaga listrik dari turbin digunakan antara lain untuk memompa air melalui pipa-pipa. Pipa air menyeberangi kebun dan sungai. Pipa air mulai menurun setelah menempuh perjalanan sekitar 1,25 kilometer dan mendaki sekitar 60 meter. Pipa air berakhir di bak penampung air (kapasitas 40.000 liter). Menampung air di tempat distribusi (16 titik) untuk diangkut ke rumah-rumah penduduk. Setelah mendaki sekitar 60 meter sepanjang kira-kira 1,25 kilometer, air menyembur di depan rumah penduduk.




Sebuah pencapaian yang patut disyukuri, karena dari perjalanan panjang yang sempat mengecewakan, kini mereka tak perlu lagi bersusah-payah mengambil air dari sungai yang jauh di bawah bukit sana. 


Alhamdulillah, wasyukurillah. Semoga dapat dipelihara, dan ditingkatkan manfaat dan maslahatnya bagi masyarakat.