PEMECAH BELAH BANGSA
Oleh Tika Noorjaya
Kelakuan para pemecah belah bangsa itu memang payah. Mereka menggembor-gemborkan bahwa Islam sekarang dipinggirkan, ... pokoknya seburuk-buruknya perlakuan. Padahal, Islam Mayoritas di Indonesia baik-baik saja, bahkan terjadi kemajuan dibanding puluhan tahun yang lalu secara kualitas maupun kuantitas, seperti pernah saya tulis dengan judul “Islam Mayoritas, Islam Minoritas”.
Dalam usia yang menjelang senja ini, kita menyaksikan bahwa dibanding masa lalu, Islam sekarang sudah amat jauh berkembang, termasuk perubahan model pendidikan pesantren yang sudah jauh meninggalkan ciri-ciri tradisionalitas.
Demikian pula fasilitas fisik keagamaan Islam seperti mushala, masjid, pesantren, dll, yang semakin banyak, besar, dan megah. Kemajuan dalam bidang fisik ini saya saksikan sendiri di hampir seluruh pelosok negeri, seluruh Nusantara, termasuk di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas Non-Muslim.
Pengajian marak di mana-mana, acara radio, acara TV, WA dibanjiri tausiyah, bahkan demo-demo diakomodasi yang hingga berjilid-jilid itu. Apakah dulu seperti itu? Sebagai pembanding, coba tanya bagaimana derita simpatisan PPP sebagai satu-satunya Partai Islam pada Pemilu 1977, karena diberangus dari 4 partai Islam pada Pemilu 1971. Saya punya saudara dan teman di kampung, yang menjadi saksi hidup atas sikap represif Rezim Orde Baru terhadap Islam waktu itu, karena di kampung saya PPP memperoleh dukungan lumayan besar. Kalau kita buka buku-buku sejarah, maka sikap represif Pemerintah di tahun 1977 itu hanyalah contoh kecil saja.
Dulu, "Assalamualaikum" hanya merupakan pembuka pidato, dan amat sangat terbatas yang berani mengucapkannya dalam perbincangan sehari-hari.
Dulu, kaum wanita hanya kenal kerudung atau pasmina, sedangkan jilbab merupakan barang langka. (Karena itu, tak usaha heran kalau kebanyakan kaum wanita kita di masa lalu tidak memaki jilbab, seperti halnya Ibu Kartini atau Cut Nya Din; -- suatu isu yang pernah muncul seakan Pemerintah tidak pro-Islam dalam penerbitan uang rupiah emisi baru. Tanpa pemahaman sejarah sama sekali, isyu itu mereka umbar begitu hingar-bingar ... sungguh memalukan).
Kemudahan transportasi juga telah memungkinkan jumlah haji dan umrah yang terus meningkat setiap tahun. Dulu ? Haji bisa dihitung dengan jari, bahkan Umroh rasanya kurang dikenal. Hal ini tentu saja merupakan petunjuk juga bahwa banyak umat Islam yang penghidupannya lebih baik, sehingga mereka dapat pergi ke tanah suci, baik untuk berhaji maupun umrah.
Nikmat mana lagi yang tengah diingkari di negara dan era ini? Dari sudut mana Islam dipinggirkan? Yang sebenarnya terjadi, yang merasa dipinggirkan adalah kaum Islam Minoritas yang baru muncul beberapa tahun belakangan, termasuk Ormas semacam HTI yang secara resmi telah dibubarkan karena tidak sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Mereka ini dipimpin oleh segelintir ulama yang memecah belah, bahasanya kasar dan mengghasut, mengkofar-kafirkan orang, memprovokasi, dan secara umum tidak menunjukkan sikap Islami yang rahmatan lil’alamin. Kalau menurut Jenderal Gatot Nurmantyo, mereka adalah “Ulama Palsu.” (Lihat tulisan saya berjudul “Menyiangi Rumput Liar, Menyiangi Ulama Liar”).
Berdasarkan pengalaman di kampung dulu dan dalam pemahaman saya selama ini, ... ulama, ustadz, atau kyai yang kami (saya) teladani senantiasa memberikan kenyamanan dan keteduhan dalam berucap dan berperilaku, suaranya lembut (nyaris tak terdengar seperti iklan Isuzu dulu), tidak menghina dan tidak menghujat ke sana-sini. Kata guru saya (alm) akhlak seseorang itu dapat dilihat dari cara berucap dan bertingkah laku, ... yang sama sekali tak nampak dari perilaku para ulama dimaksud.
___
Mengenai Abdul Somad, jujur saya menyukai ceramahnya dari beberapa video yang pernah saya lihat dan simak. Tampilannya sederhana, tapi isinya bernas, meyakinkan. (Sejauh ini saya tidak merasa punya kapasitas untuk memeriksa apakah hadis-hadis yang disampaikannya sahih atau tidak, karena konon setiap mazhab akan memilih dan memilah hadis-hadis yang cocok dengan pendiriannya). Ditambah dengan humornya yang pas, ceramahnya terasa enak, gayeng.
Meskipun demikian, sebagai anak muda, Somad masih harus banyak belajar rendah hati. Penghinaan fisik terhadap Rina Nose (yang katanya pesek dan buruk rupa) tak layak dibela dengan cara apa pun; demikian pula tentang pengkafiran terhadap Ucapan “Hari Ibu” dan “Hari Natal” yang ngawur itu.
Kenapa? Membandingkan ucapan “Selamat Hari Natal” dengan “Kalimat Syahadat”, sehingga dicap merusak aqidah, adalah logika yang belepotan karena tidak “apple to apple”, suatu standar etika dalam dunia akademis.
Pantasnya, ucapan “Selamat Hari Natal” itu dibandingkan dengan “Selamat Idul Fitri”, “Selamat Idul Adha” atau “Selamat Maulid”. Saya tak keberatan kalau dia bersama Felix Siauw berpendapat bahwa haram mengucapkan “Hari Natal”, tapi tak perlu didramatisir sebagai de-Islamisasi, apalagi dengan mengatasnamakan Islam.
“Natal” secara harfiah berarti “lahir” atau kelahiran. Tentang kelahiran Nabi Isa cukup banyak ayat AlQuran yang memberitakannya, misalnya ada di Surat Maryam ayat 16-40. Bukan hanya itu, Nabi Isa tak sekadar nabi, beliau juga Rosul seperti halnya Kangjeng Nabi Muhammad SAW. Jadi, mengakui hari kelahirannya adalah sesuai dengan Rukun Iman kita.
Tentang kelahiran yang dibilang bukan 25 Desember, jangankan kelahiran Nabi Isa yang sudah melewati masa ribuan tahun, sedangkan hari kelahiran saya pada akhir 1950an saja amat tak jelas. Orang tua saya yang terbiasa dengan kalender Qomariah menyebutkan bahwa saya lahir 5 Syafar ... Belakangan, setelah saya konversi ke kalender Syamsiah (Masehi) ternyata harinya nggak cocok, apalagi tanggalnya, ha ha ha. Saya yakin, di masa lalu sebagian besar umat Islam menggunakan kalender Qomariah dalam kehiduan sehari-harinya, bukan kalender Masehi seperti sekarang. Saya juga yakin, di masa lalu hanya sebagian kecil saja masyarakat yang sadar perlunya Akte Kelahiran. Meskipun begitu, ketika di rapor dan ijazah tertulis 19 November, maka saya fine-fine saja ketika teman-teman memberikan ucapan selamat ulang tahun pada tanggal 19 November itu.
OK, meskipun tak logis, anggaplah apa yang di-igaukan Somad dan Siauw itu betul, tapi ... kita ‘pan membaca kalimat syahadat dalam setiap solat kita, berarti pada saat itu kita memperbaiki lagi aqidah kita. So what gitu lho. Ha ha ha.
___
Mengenai Felix Siauw, saya tak ingin komentar banyak, karena sudah jelas dia pendukung HTI, ormas yang sudah jelas-jelas dilarang sebagaimana halnya PKI. Dia berkhayal bahwa penguasa takut akan kebangkitan Islam. Ini konspirasi basi, seperti Aming Bos CAI dalam Sinetron “Dunia Terbalik”, he he he. Kalau pemerintah takut Islam, kenapa Kementerian Agama mendapat porsi besar dalam APBN? Kenapa NU dan Muhammadiyah semakin membesar dari hari ke hari? Kenapa sampai di pelosok desa selalu ada masjid, musholla dan pesantren dibangun?
Jadi, yang sesungguhnya diberantas oleh negara adalah radikalisme dan anti Pancasila, para "pemberontak" ideologi bangsa dan negara. Mereka para kaum Islam Minoritas, tetapi senantiasa mengatasnamakan Islam Mayoritas.
Kamis, 28 Desember 2017
HANOMAN dalam Wiracarita Ramayana
ZULHAM FAROBI, Hanoman dalam Wiracarita Ramayana, Penerbit Pustaka Jawi, Yogyakarta, November 2017, (viii + 404 halaman). ISBN 978-602-5469-58-9.
Sebagai pengagum tokoh Hanoman, saya amat tergoda untuk menyelesaikan membaca buku ini hanya dalam dua hari karena Hanoman berkisah tentang dirinya sendiri secara memikat dengan menggunakan kata ganti orang pertama: AKU.
Novel ini terasa puitis sejak awal, ketika masa kecil Hanoman yang indah bersama Dewi Anjani, sang ibu, harus berakhir di suatu pagi, saat Hanoman bangun tidur dan sang ibu tak lagi ada di sisinya. Menarik sekali bahwa kenangan tentang sang ibu (dalam bentuk nyanyian dan puisi) berkali-kali mengemuka kala Hanoman menyikapi suatu keadaan, termasuk di penutup kisah. Buku ini memang sangat kental menonjolkan hubungan cinta kasih ibu dan anak.
Novel ini terasa puitis sejak awal, ketika masa kecil Hanoman yang indah bersama Dewi Anjani, sang ibu, harus berakhir di suatu pagi, saat Hanoman bangun tidur dan sang ibu tak lagi ada di sisinya. Menarik sekali bahwa kenangan tentang sang ibu (dalam bentuk nyanyian dan puisi) berkali-kali mengemuka kala Hanoman menyikapi suatu keadaan, termasuk di penutup kisah. Buku ini memang sangat kental menonjolkan hubungan cinta kasih ibu dan anak.
_____
Meskipun demikian, saya merasa ada hal yang berbeda ketika membaca novel wayang ini dibandingkan dengan wiracarita Ramayana yang selama ini saya ketahui. Secara umum, plot dasar cerita dalam novel ini sama dengan pakem, tetapi ada beberapa rekaan "baru".
Dewi Swayempraba, misalnya, tampil sebagai penolong dalam perjalanan pasukan Kiskenda menuju Alengka (halaman 155-172), bukannya sebagai pihak yang licik dan mencelakakan.
Episode "Rama Tambak" (Jembatan Rama, halaman 267-272) terasa datar, terasa mudah, karena ada pertolongan Dewa Wisnu, sehingga meniadakan berbagai gangguan dari anak-anak dan saudara Rahwana yang selama ini digambarkan amat seram dan membahayakan, sehingga pekerjaan harus diulang berkali-kali. Dalam buku ini, karena tanpa gangguan maka jembatan penyeberang lautan untuk mencapai Alengka itu dapat diselesaikan hanya dalam empat hari.
Hal yang tak diceritakan adalah khasiat daun Latamaosandi (sandilata) dari Gunung Mangliawan untuk menghidupkan kembali Rama, Laksmana, serta prajurit wanara yang mati karena kesaktian aji penyirep dan gigitan ular berbisa panah Nagapasa yang dilepaskan Indrajit.
Demikian juga, tak ada kisah lucu ketika panah Kyai Dangu milik Rama yang menyakiti dan membuntuti Rahwana ke mana pun dia sembunyi. Karena itu, tak ada juga kisah tentang Gunung Sondara-Sondari yang menjepit Rahwana di akhir hidupnya. Kematian Rahwana digambarkan "biasa saja", wajar tanpa penderitaan.
Akhirnya, episode "Sinta Labuh Geni" (Api Dewi Sinta, halaman 381-391) menjelang penghujung kisah berlangsung happy-ending dalam narasi singkat, bukannya penuh dengan pergulatan batin yang intens tentang arti kesetiaan.
Dewi Swayempraba, misalnya, tampil sebagai penolong dalam perjalanan pasukan Kiskenda menuju Alengka (halaman 155-172), bukannya sebagai pihak yang licik dan mencelakakan.
Episode "Rama Tambak" (Jembatan Rama, halaman 267-272) terasa datar, terasa mudah, karena ada pertolongan Dewa Wisnu, sehingga meniadakan berbagai gangguan dari anak-anak dan saudara Rahwana yang selama ini digambarkan amat seram dan membahayakan, sehingga pekerjaan harus diulang berkali-kali. Dalam buku ini, karena tanpa gangguan maka jembatan penyeberang lautan untuk mencapai Alengka itu dapat diselesaikan hanya dalam empat hari.
Hal yang tak diceritakan adalah khasiat daun Latamaosandi (sandilata) dari Gunung Mangliawan untuk menghidupkan kembali Rama, Laksmana, serta prajurit wanara yang mati karena kesaktian aji penyirep dan gigitan ular berbisa panah Nagapasa yang dilepaskan Indrajit.
Demikian juga, tak ada kisah lucu ketika panah Kyai Dangu milik Rama yang menyakiti dan membuntuti Rahwana ke mana pun dia sembunyi. Karena itu, tak ada juga kisah tentang Gunung Sondara-Sondari yang menjepit Rahwana di akhir hidupnya. Kematian Rahwana digambarkan "biasa saja", wajar tanpa penderitaan.
Akhirnya, episode "Sinta Labuh Geni" (Api Dewi Sinta, halaman 381-391) menjelang penghujung kisah berlangsung happy-ending dalam narasi singkat, bukannya penuh dengan pergulatan batin yang intens tentang arti kesetiaan.
Rabu, 18 Oktober 2017
LOMBOK: Pantai Senggigi
Kembali menelusuri Pantai Senggigi adalah suatu nostalgia tentang keindahan panorama pantai, dengan air yang jernih dan bersih, serta semilir angin yang menyegarkan.
Senggigi terletak di sebelah barat pesisir Pulau Lombok, tetapi suasananya serasa berada di Pantai Kuta, Bali. Tak heran kalau wisatawan domestik dan mancanegara banyak lalu lalang di sana.
Pantainya memang menjadi daya tarik dengan pemandangan garis pantainya yang panjang, sehingga tampak indah dipandang dari kejauhan dan ketinggian. Kontur jalannya naik turun antara pantai dan perbukitan yang tak begitu tinggi namun cukup memadai untuk menikmati keindahan pantainya, seperti bisa kita saksikan dari lokasi sekitar Villa Hantu, Pantai Stangi. Demikian pula pemndangan di sekitar Malimbu, yang dapat melihat ke arah tiga pulau terkenal: Gili Trawangah, Gili Mano, dan Gili Air.
Sementara dari pantai kita bisa melihat keindahan panorama perbukitan. Sayangnya, cuaca sudah mulai hujan, sehingga beberapa tempat yang indah tak sempat dikunjungi.
Dengan garis pantai yang panjang, Pantai Senggigi menyuguhkan gradasi warna pasir pantai dari hitam hingga putih, meski tak putih-putih amat. Air lautnya jernih dan bersih dengan riak ombak yang kecil. Pantai Senggigi adalah objek wisata menarik bagi orang-orang yang menyukai laut sebagai pilihan destinasi untuk rekreasi.
Senggigi hanya berjarak sekitar 16 km dari pusat kota Mataram sebagai ibokota Provinsi NTB. Kalau dihitung dari bandara internasional Lombok Praya sekitar 50 km, dengan perjalanan darat yang lancar sekitar satu jam.
Tak pelak, perjalanan ke Senggigi menghadirkan pengalaman wisata pantai yang mengundang rindu untuk mengulangnya.
LOMBOK: Pulau Seribu Mesjid
Dikenal sebagai "Pulau Seribu Mesjid", nyatanya di Pulau Lombok terdapat sekitar 5.400 mesjid. Dengan luas pulau mencapai 4.725 km2, berarti setiap 0.88 km2 ada satu mesjid. Ini angka rata-rata dari tempat kosong hingga padat penduduk. Karena itu tak mengherankan kalau di perkotaan yang padat penduduk, bisa kita temukan mesjid dalam jarak yang berdekatan.
Hal itu bisa kita saksikan sejak perjalanan dari Bandara Internasional Lombok menuju pusat kota Mataram. Di kiri-kanan jalan, di tepi jalan yang dekat maupun di kejauhan, mesjid demi mesjid berdiri megah dan indah. Umumnya berukuran besar dengan kapasitas tampung yang cukup banyak, konon karena setiap komunitas selalu berkeinginan untuk memperbesar dan mempersolek mesjid. Pembangunan mesjid, konon bisa berlanjut 10-20 tahun.
Tebaran masjid juga bisa tampak jelas kalau kita berada di ketinggian seperti rooftop hotel atau perbukitan. Menara yang menjulang dan kubah yang indah dapat kita saksikan. Di malam hari, mesjid-mesjid itu berwarna-warni gemerlap dalam gelap.
Tercatat ada lima mesjid terindah di Pulau Lombok, yaitu: Mesjid Islamic Center, Mataram; Mesjid Al Akbar, Masbagik, Lombok Timur; Mesjid Kopang, Lombok Tengah; Mesjid Agung Praya, Lombok Tengah; dan Mesjid Jamiq, Selong, Lombok Timur.
Selain itu, ada juga mesjid tertua yang dibangun pada tahun 1600an, yaitu Mesjid Kuno Bayan Beleq, yang terletak di suatu bukit di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, sebagai saksi bisu masuknya agama Islam di Pulau Lombok.
Minggu, 17 September 2017
Rantai Pasok Komoditas Pertanian Indonesia,
Erna Maria Lokollo (Editor), Rantai
Pasok Komoditas Pertanian Indonesia, IPB Press, Bogor, Juni 2016
(Cetakan Ke-2); (viii + 302 halaman). ISBN 978-979-493-463-0.
Gonjang-ganjing penggerebegan PT IBU
(PT Indo Beras Unggul) belakangan ini telah menjadi perbincangan yang intens di
media massa, lengkap dengan pro-kontranya, yang bahkan cenderung emosional,
disertai sindir-menyindir dari para pendukungnya.
Itulah implementasi pembangunan
pertanian di lapangan, yang tidak semudah kajian akademis. Nyatanya, dari
doeloe hingga kini, Indonesia belum bisa beranjak dari persoalan beras. Halnya,
dengan jumlah penduduk yang terus bertambah, maka kebutuhannya telah melampaui
35 juta ton beras per tahun. Tak pelak, beras adalah komoditas yang sangat
strategis bahkan politis. Tak heran, peristiwa penggerebegan di atas melibatkan
para petinggi dari kementrian, kepolisian, dan beberapa lembaga terkait.
----
Buku ini dapat dijadikan pegangan
untuk memetakan permasalahan, sekaligus mencari solusinya. Buku ini mengawali
pemaparan dengan landasan teoritis tentang definisi manajemen rantai pasok (Supply Chain Management, SCM),
dilanjutkan dengan penerapan konsepnya dalam pembangunan pertanian Indonesia.
Secara teknis kemudian menjadi menarik ketika para kontributor membahas delapan
studi kasus komoditas, yaitu beras (Dewa K. S. Swastika dan Sumaryanto),
kentang (Muchjidin Rachmat, Mardiah Hayati, dan Desi Rahmaniar), cabai merah
besar (Saptana), melon dan semangka (Saptana, Adang Agustian, dan Sunarsih),
kopi (Reni Kustiari), tembakau (Muchjidin Rachmat dan Sri Nuryanti), broiler (Saptana dan Arief Daryanto),
serta ternak dan daging sapi (Prajogo U. Hadi). Daerah penelitian pun menyebar
di wilayah Indonesia Barat, Tengah, dan Timur. Buku ini juga memberi petunjuk,
bahwa komoditas beras memang menjadi prioritas khusus, karena ada satu lagi
tambahan studi kasus beras di daerah Aceh (Erna Maria Lokollo, DewaKetut Sadra
Swastia, dan Wahida).
Ternyata, rumus kunci dalam penerapan
SCMterletak pada pemenuhan terhadap persyaratannya, yakni: (a) Aktivitas yang
dilakukan sepanjang rantai pasok harus menghasilkan nilai tambah, (2) Ada
peranan jasa di setiap simpul, (3) Harus ada “penentu” harga, baik apa maupun
siapa, (4) Ada hubungan kesepadanan antar-pelaku, (5) Bagaimana “terciptanya”
nilai tambah di setiap simpul, dan (6) Harus teridentifikasi penentu dan
pengambilan keputusan.
Dalam konteks keberlanjutan
pembangunan pertanian, perubahan lingkungan strategis seperti liberalisasi
perdangangan, pesatnya pertumbunan pasar modern, dinamika permintaan pasar, dan
perubahan preferensi konsumen menuntut adanya perbaikan dalam sistem SCM.
Dengan penerapan SCM secara konsisten dan berkesinambungan diharapkan terjadi
peningkatan produktivitas, efisiensi usaha, serta efektivitas distribusi,
sehingga dapat memenuhi sekaligus memuaskan kebutuhan konsumen.
----
Kembali ke kasus PT IBU, menurut
pengalaman saya sangat mungkin pengusaha swasta mengambil rente dari sistem
komoditas beras yang sedang berlangsung, karena sebagai entitas bisnis pasti
mereka ingin mendapat margin. Ketika saya menjadi Tim Bantuan Tenaga Mahasiswa
IPB dalam Satgas Pengadaan Pangan Dalam Negeri pada tahun 198081, pembelian
gabah dari petani ditetapkan dengan harga yang berbeda antara penjualan melalui
KUD dengan swasta, sehingga terjadi kongkalingkong rente ekonomi dalam bentuk
“kerjasama” antara pihak swasta dengan koperasi untuk menikmati rente tersebut
bersama-sama.
Karena itu, dalam kasus PT IBU
belakangan ini, sebaiknya kasus tersebut dibawa ke meja hijau saja, agar jelas
siapa yang bersalah dan di mana letask salahnya. Dalam persidangan di
pengadilan nanti, kiranya dapat diperoleh pencerahan bagaimana komoditas yang
sangat vital ini seharusnya dikelola. Mungkin Editor dan/atau Kontributor
penulis buku ini dapat dihadirkan sebagai Saksi Ahli, dalam pemenuhan
persyaratan atau prakondisi manajemen SCM.
Kalaupun sejak awal kita ingin menarik
hikmah dari kasus PT IBU, dengan berbekal pengetahuan dari buku in, maka hal itu
tertuju terutama ke soal optimalisasi peran Bulog di daerah (Dolog dan
Subdolog). Atau, perlu juga dipertimbangkan keberadaan BUMD (Badan Usaha Milik
Desa) yang telah berhasil di Kabupaten Kulonprogo. Hal yang juga perlu dikaji
adalah efektivitas subsidi di hulu (subsistem usahatani).
DARI PERGURUAN TINGGI, MEMBANGUN NEGERI
ASEP SAEFUDDIN, Dari Perguruan Tinggi Bangun Negeri, Rajawali Press, Jakarta, Maret 2017, 242 halaman.
ISBN 978-602-425-145-1.
___
Penulis buku ini, Prof Dr. Ir. Asep Saefuddin, adalah anak saintifik Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion. Betapa tidak. Saya mengenal Kang Asep sejak sama-sama kuliah di Insitut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1976. Saya tahu bahwa sejak awal Kang Asep menjadi “anak emas” Pak Andi Hakim, antara lain karena merupakan sedikit dari mahasiswa IPB yang IPK-nya selalu tinggi.
Dari biografi singkat di bagian akhir buku ini (Bagian Delapan, halaman 194-240), segera tampak, bahwa perjalanan hidup, keilmuan dan karir Kang Asep banyak diwarnai dan tak lepas dari peran Pak Andi. Tak heran kalau dua tahun terakhir Kang Asep menjadi anggota Tim Pengusul Pemberian nama Jl. Prof. Dr. H. Andi Hakim Nasoetion, -- jalan menuju Kampus IPB Baranangsiang yang dulu disebut Jl. Rumah Sakit II.
Sekalipun berbeda latar belakang antara Batak dan Sunda, ada kesamaan antara Pak Andi dengan Kang Asep: Keduanya sama-sama Guru Besar IPB bergelar Prof Dr Ir, berkeahlian di bidang statistika, menjadi administartor perguruan tinggi, aktivis kampus, ... dan suka menulis dalam berbagai denominasi pemikiran.
Buku ini contohnya. Buku ini bukan buku ilmiah kepakaran Kang Asep sebagai ahli statistika, melainkan penuangan gagasannya yang terkait dengan pengalamannya menjadi administrator perguruan tinggi, tepatnya sebagai Rektor Universitas Trilogi sejak 3 Oktober 2013 hingga sekarang. Luar biasa, dalam rentang yang pendek itu, terkumpul 49 tulisan yang sebagian besar pernah dimuat di media massa. Karena Universitas Trilogi berpilarkan Teknopreneur, Kolaborasi, dan Kemandirian, maka salahsatu Bagian dari kumpulan tulisan ini fokus pada ketiga pilar tersebut.
Sebagai rampaian tulisan yang serba singkat, tak terhindarkan bahwa uraiannya tak sampai final untuk jadi sebuah proposal kegiatan yang rinci, tetapi sejumlah gagasannya kiranya akan menjadi tongkat penunjuk ke arah ketidaktahuan yang harus dielaborasi kemudian.
Buku ini dibagi menjadi tujuh Bagian, yang ketujuhnya diberi judul awal “Perguruan Tinggi”, baru diikuti dengan pokok bahasannya, yaitu: (1) Generasi Teknopreneur, (2) Ilmu Pengetahuan, (3) Etika dan Sosial Politik, (4) Gagasan dan Riset, (5) Kolaborasi dan Kemandirian, (6) Revolusi Mental dan Pendidikan, serta (7) Sistem Pendidikan Nasional.
Itulah garis besar gagasan Prof Dr Ir. Asep Saefuddin untuk membangun negeri dari perguruan tinggi. Peran yang menjadi obsesinya agar perguruan tinggi menjadi lumbung ide sebagai jalan penyelesaian masalah bangsa, ... sebagai tambahan khazanah urgensi perguruan tinggi.
Perguruan tinggi memang bukan segalanya, namun segalanya bisa lahir dan diselesaikan di sini. “Dari Perguruan Tinggi, Mari Kita Membangun Negeri”, katanya (halaman ix).
Sabtu, 24 Juni 2017
ULAMA dan GULMA
Tadi siang, Kang Kasep (nama samaran) japri ke WA saya. Postingannya berjudul
"Imam Bukhary, The Untold Story", di mana dikisahkan bahwa baginda
Imam Bukhary difitnah oleh penguasa, lalu dipenjarakan sebelum datang
pertolongan Tuhan.
Gaya berceritanya berupa perbincangan antara ayah dan anak. Di akhir kisah, sang ayah berpesan begini: "Oleh karena itu kalau ada seorang ulama sedang dilanda fitnah, Kakak jangan sampai ikut-ikutan menyebarkannya. Karena Allah pasti marah".
______
Entah apa maksud Kang Kasep mengirimi saya nasihat seperti kepada anak kecil itu. Tapi saya tak peduli soal itu.
Entah apa maksud Kang Kasep mengirimi saya nasihat seperti kepada anak kecil itu. Tapi saya tak peduli soal itu.
Hal yang menjadi perhatian saya adalah sikapnya yang menyamakan ulama besar sekelas Imam Bukhary dengan ulama liar yang dimaksudkannya dalam kisah itu.
Cara berpikir seperti itu jelas memutarbalikkan fakta. Bagaimana bisa fakta-fakta yang bejibun dan kasat mata dimanipulasi sebagai fitnah. Karena itu, saya membalas WA tersebut. Begini:
_______
Hatur nuhun Kang Kasep. Renungan yang sungguh menarik bagi kita sebagai Muslim penghuni negeri mayoritas di negeri ini.
Hatur nuhun Kang Kasep. Renungan yang sungguh menarik bagi kita sebagai Muslim penghuni negeri mayoritas di negeri ini.
Memang sejarah Islam punya banyak masa kegemilangan, termasuk memiliki ulama sang pencerah almukarom Imam Bukhary.
Di Indonesia pun kita mengenal sejumlah nama besar yang menampilkan Islam sebagai rahmatan lil'alamin seperti yang dicontohkan sang junjunan, Nabi Besar Muhammad SAW.
Contohnya adalah para wali, yang menyuburkan Islam di Nusantara. Belakangan kita juga mengenal K. H. Hasyim Asy'ari pendiri Nahdlatul Ulama dan K. H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Keduanya betul-betul mewakili kaum mayoritas Islam Indonesia, dan telah menggerakkan ummatnya di akar rumput sebagai warga negara yang Islami. Para pemimpin dan para ulama pelanjutnya juga menjaga amanah para pendahulunya dengan sebaik-baiknya. Tak sedikit di antaranya yang berhasil jadi umara.
Meskipun ada perbedaan pandangan dalam berbagai hal di antara NU dan Muhammadiyah, seperti yang dapat kita amati hingga sekarang, tapi keduanya tetap saling menghormati dan senantiasa menjaga keutuhan negara kita tercinta. Belum pernah ada perbedaan pandangan yang meruncing dan mengancam keutuhan bangsa. Bahkan, dalam takaran tertentu, di komunitas tertentu, perbedaan tersebut menjadi lahan yang subur untuk menjadi bahan candaan, ... bukan menjadi sarana perpecahan. Termasuk kategori ini misalnya telunjukyang diutek-utek, pakai usholi atau tidak, pakai qunut atau tidak, taraweh dalam berbagai versi banyaknya rakaat, dan lain-lain. Bahkan, cara menentukan hilal dalam penetapan ramadhan, idul fitri, idul adha, ... semuanya berakhir hepi ending, jauh dari pemicu perpecahan.
Kita juga sempat mengalami perbedaan pendapat dalam perjalanan sejarah bangsa karena perbedaan ideologi. Namun semuanya diproses sesuai hukum yang berlaku, ... dan terbukti aturan dan hukum positif yang ada di negeri ini, selama ini, sudah dapat menjaga keutuhan negara hingga 72 tahun sekarang ini.
Karena itu, yang harus disikapi dengan cermat dan teliti sekarang ini adalah kelompok minoritas pendatang baru yang mengatasnamakan mayoritas Islam.
Seperti gulma yang mengganggu
tanaman utama, kelompok minoritas ini dipimpin oleh ulama liar, dengan perilaku
non-Islami yang memecah belah persatuan bangsa, menghina Pancasila, menghina
lambang negara, menghina agama lain, menyebarkan hoax yang insinuatif
provokatif, dan lain-lain. Dan sebagai orang Sunda tentu saja kita juga merasa
terhina ketika sapaan silaturahmi "sampurasun" dilecehkannya menjadi
"campur racun".
Lebih celaka lagi, setelah beberapa kelakuannya itu memanen tuntutan di pengadilan (termasuk 2 tindak pidana yang sudah berstatus Tersangka), ... ehhh dia malahan kabur.
Sungguh nyata perbedaan sikap antara ulama liar itu dengan Almukarom Imam Bukhary. Bagaimana manusia macam begituan mau disetarakan dengan almukarom Imam Bukhary? Mungkin ada baiknya kalau hasil renungan Kang Kasep itu dikirimkan juga ke ulama liar itu. Kasihan para pengikutnya yang ternyata dipimpin oleh ulama liar yang tidak Islami.
Karena itu, semoga kita "teu kabawa ku sakaba-kaba", oleh ulama liar dan aliran Islam baru yang sangat minoritas itu, tetapi dalam gerakannya senantiasa mengatasnamakan mayoritas Islam.
Mari kita menghormati para ulama Islam kita sebagai pewaris para nabi, dengan menyianginya dari ulama liar, ulama abal-abal, yang menggunakan simbol-simbol keislaman untuk mengadu-domba; yang dalam terminologi Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, disebut sebagai ulama palsu.
Mari kita bergandengan tangan dalam wadah organisasi Islam yang sudah terbukti selama puluhan tahun dapat menjaga persatuan dan keutuhan bangsa. Aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)















