Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Desember 2017

PONTIANAK: Kesultanan Kodriyah



Iniah kesultanan Melayu yang didirikan tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, di daerah muara Sungai Kapuas Pontianak.
Ia melakukan dua pernikahan politik di Kalimantan, pertama dengan putri dari Kerajaan Mempawah dan kedua dengan putri dari Kesultanan Banjar (Ratu Syarif Abdul Rahman, putri dari Sultan Tamjidillah I), sehingga ia dianugerahi gelar Pangeran.
Setelah mukim di Pontianak, ia mendirikan Istana Kadriyah dan mendapatkan pengesahan sebagai Sultan Pontianak dari Belanda pada tahun 1779.
Di ruangan dalam istana ini terkesan magis. Tamu hanya berfoto di depan kursi Sultan, tak bisa mendudukinya seperti di Istana Pagaruyung atau Istana Deli.

Kamis, 28 Desember 2017

Pemecah Belah Bangsa

PEMECAH BELAH BANGSA
Oleh Tika Noorjaya

Kelakuan para pemecah belah bangsa itu memang payah. Mereka menggembor-gemborkan bahwa Islam sekarang dipinggirkan, ... pokoknya seburuk-buruknya perlakuan. Padahal, Islam Mayoritas di Indonesia baik-baik saja, bahkan terjadi kemajuan dibanding puluhan tahun yang lalu secara kualitas maupun kuantitas, seperti pernah saya tulis dengan judul “Islam Mayoritas, Islam Minoritas”.

Dalam usia yang menjelang senja ini, kita menyaksikan bahwa dibanding masa lalu, Islam sekarang sudah amat jauh berkembang, termasuk perubahan model pendidikan pesantren yang sudah jauh meninggalkan ciri-ciri tradisionalitas.

Demikian pula fasilitas fisik keagamaan Islam seperti mushala, masjid, pesantren, dll, yang semakin banyak, besar, dan megah. Kemajuan dalam bidang fisik ini saya saksikan sendiri di hampir seluruh pelosok negeri, seluruh Nusantara, termasuk di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas Non-Muslim.

Pengajian marak di mana-mana, acara radio, acara TV, WA dibanjiri tausiyah, bahkan demo-demo diakomodasi yang hingga berjilid-jilid itu. Apakah dulu seperti itu? Sebagai pembanding, coba tanya bagaimana derita simpatisan PPP sebagai satu-satunya Partai Islam pada Pemilu 1977, karena diberangus dari 4 partai Islam pada Pemilu 1971. Saya punya saudara dan teman di kampung, yang menjadi saksi hidup atas sikap represif Rezim Orde Baru terhadap Islam waktu itu, karena di kampung saya PPP memperoleh dukungan lumayan besar. Kalau kita buka buku-buku sejarah, maka sikap represif Pemerintah di tahun 1977 itu hanyalah contoh kecil saja.

Dulu, "Assalamualaikum" hanya merupakan pembuka pidato, dan amat sangat terbatas yang berani mengucapkannya dalam perbincangan sehari-hari.

Dulu, kaum wanita hanya kenal kerudung atau pasmina, sedangkan jilbab merupakan barang langka. (Karena itu, tak usaha heran kalau kebanyakan kaum wanita kita di masa lalu tidak memaki jilbab, seperti halnya Ibu Kartini atau Cut Nya Din; -- suatu isu yang pernah muncul seakan Pemerintah tidak pro-Islam dalam penerbitan uang rupiah emisi baru. Tanpa pemahaman sejarah sama sekali, isyu itu mereka umbar begitu hingar-bingar ... sungguh memalukan).

Kemudahan transportasi juga telah memungkinkan jumlah haji dan umrah yang terus meningkat setiap tahun. Dulu ? Haji bisa dihitung dengan jari, bahkan Umroh rasanya kurang dikenal. Hal ini tentu saja merupakan petunjuk juga bahwa banyak umat Islam yang penghidupannya lebih baik, sehingga mereka dapat pergi ke tanah suci, baik untuk berhaji maupun umrah.

Nikmat mana lagi yang tengah diingkari di negara dan era ini? Dari sudut mana Islam dipinggirkan? Yang sebenarnya terjadi, yang merasa dipinggirkan adalah kaum Islam Minoritas yang baru muncul beberapa tahun belakangan, termasuk Ormas semacam HTI yang secara resmi telah dibubarkan karena tidak sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Mereka ini dipimpin oleh segelintir ulama yang memecah belah, bahasanya kasar dan mengghasut, mengkofar-kafirkan orang, memprovokasi, dan secara umum tidak menunjukkan sikap Islami yang rahmatan lil’alamin. Kalau menurut Jenderal Gatot Nurmantyo, mereka adalah “Ulama Palsu.” (Lihat tulisan saya berjudul “Menyiangi Rumput Liar, Menyiangi Ulama Liar”).

Berdasarkan pengalaman di kampung dulu dan dalam pemahaman saya selama ini, ... ulama, ustadz, atau kyai yang kami (saya) teladani senantiasa memberikan kenyamanan dan keteduhan dalam berucap dan berperilaku, suaranya lembut (nyaris tak terdengar seperti iklan Isuzu dulu), tidak menghina dan tidak menghujat ke sana-sini. Kata guru saya (alm) akhlak seseorang itu dapat dilihat dari cara berucap dan bertingkah laku, ... yang sama sekali tak nampak dari perilaku para ulama dimaksud.
___
Mengenai Abdul Somad, jujur saya menyukai ceramahnya dari beberapa video yang pernah saya lihat dan simak. Tampilannya sederhana, tapi isinya bernas, meyakinkan. (Sejauh ini saya tidak merasa punya kapasitas untuk memeriksa apakah hadis-hadis yang disampaikannya sahih atau tidak, karena konon setiap mazhab akan memilih dan memilah hadis-hadis yang cocok dengan pendiriannya). Ditambah dengan humornya yang pas, ceramahnya terasa enak, gayeng.

Meskipun demikian, sebagai anak muda, Somad masih harus banyak belajar rendah hati. Penghinaan fisik terhadap Rina Nose (yang katanya pesek dan buruk rupa) tak layak dibela dengan cara apa pun; demikian pula tentang pengkafiran terhadap Ucapan “Hari Ibu” dan “Hari Natal” yang ngawur itu.

Kenapa? Membandingkan ucapan “Selamat Hari Natal” dengan “Kalimat Syahadat”, sehingga dicap merusak aqidah, adalah logika yang belepotan karena tidak “apple to apple”, suatu standar etika dalam dunia akademis.

Pantasnya, ucapan “Selamat Hari Natal” itu dibandingkan dengan “Selamat Idul Fitri”, “Selamat Idul Adha” atau “Selamat Maulid”. Saya tak keberatan kalau dia bersama Felix Siauw berpendapat bahwa haram mengucapkan “Hari Natal”, tapi tak perlu didramatisir sebagai de-Islamisasi, apalagi dengan mengatasnamakan Islam.

“Natal” secara harfiah berarti “lahir” atau kelahiran. Tentang kelahiran Nabi Isa cukup banyak  ayat AlQuran yang memberitakannya, misalnya ada di Surat Maryam ayat 16-40. Bukan hanya itu, Nabi Isa tak sekadar nabi, beliau juga Rosul seperti halnya Kangjeng Nabi Muhammad SAW. Jadi, mengakui hari kelahirannya adalah sesuai dengan Rukun Iman kita.

Tentang kelahiran yang dibilang bukan 25 Desember, jangankan kelahiran Nabi Isa yang sudah melewati masa ribuan tahun, sedangkan hari kelahiran saya pada akhir 1950an saja amat tak jelas. Orang tua saya yang terbiasa dengan kalender Qomariah menyebutkan bahwa saya lahir 5 Syafar ...  Belakangan, setelah saya konversi ke kalender Syamsiah (Masehi) ternyata harinya nggak cocok, apalagi tanggalnya, ha ha ha. Saya yakin, di masa lalu sebagian besar umat Islam menggunakan kalender Qomariah dalam kehiduan sehari-harinya, bukan kalender Masehi seperti sekarang. Saya juga yakin, di masa lalu hanya sebagian kecil saja masyarakat yang sadar perlunya Akte Kelahiran. Meskipun begitu, ketika di rapor dan ijazah tertulis 19 November, maka saya fine-fine saja ketika teman-teman memberikan ucapan selamat ulang tahun pada tanggal 19 November itu.

OK, meskipun tak logis, anggaplah apa yang di-igaukan Somad dan Siauw itu betul, tapi ... kita ‘pan membaca kalimat syahadat dalam setiap solat kita, berarti pada saat itu kita memperbaiki lagi aqidah kita. So what gitu lho. Ha ha ha.
___
Mengenai Felix Siauw, saya tak ingin komentar banyak, karena sudah jelas dia pendukung HTI, ormas yang sudah jelas-jelas dilarang sebagaimana halnya PKI. Dia berkhayal bahwa penguasa takut akan kebangkitan Islam. Ini konspirasi basi, seperti Aming Bos CAI dalam Sinetron “Dunia Terbalik”, he he he. Kalau pemerintah takut Islam, kenapa Kementerian Agama mendapat porsi besar dalam APBN? Kenapa NU dan Muhammadiyah semakin membesar dari hari ke hari? Kenapa sampai di pelosok desa selalu ada masjid, musholla dan pesantren dibangun?

Jadi, yang sesungguhnya diberantas oleh negara adalah radikalisme dan anti Pancasila, para  "pemberontak" ideologi bangsa dan negara. Mereka para kaum Islam Minoritas, tetapi senantiasa mengatasnamakan Islam Mayoritas.

Rabu, 18 Oktober 2017

LOMBOK: Pulau Seribu Mesjid

Dikenal sebagai "Pulau Seribu Mesjid", nyatanya di Pulau Lombok terdapat sekitar 5.400 mesjid. Dengan luas pulau mencapai 4.725 km2, berarti setiap 0.88 km2 ada satu mesjid. Ini angka rata-rata dari tempat kosong hingga padat penduduk. Karena itu tak mengherankan kalau di perkotaan yang padat penduduk, bisa kita temukan mesjid dalam jarak yang berdekatan.


Hal itu bisa kita saksikan sejak perjalanan dari Bandara Internasional Lombok menuju pusat kota Mataram. Di kiri-kanan jalan, di tepi jalan yang dekat maupun di kejauhan, mesjid demi mesjid berdiri megah dan indah. Umumnya berukuran besar dengan kapasitas tampung yang cukup banyak, konon karena setiap komunitas selalu berkeinginan untuk memperbesar dan mempersolek mesjid. Pembangunan mesjid, konon bisa berlanjut 10-20 tahun.


Tebaran masjid juga bisa tampak jelas kalau kita berada di ketinggian seperti rooftop hotel atau perbukitan. Menara yang menjulang dan kubah yang indah dapat kita saksikan. Di malam hari, mesjid-mesjid itu berwarna-warni gemerlap dalam gelap.


Tercatat ada lima mesjid terindah di Pulau Lombok, yaitu: Mesjid Islamic Center, Mataram; Mesjid Al Akbar, Masbagik, Lombok Timur; Mesjid Kopang, Lombok Tengah; Mesjid Agung Praya, Lombok Tengah; dan Mesjid Jamiq, Selong, Lombok Timur.

Selain itu, ada juga mesjid tertua yang dibangun pada tahun 1600an, yaitu Mesjid Kuno Bayan Beleq, yang terletak di suatu bukit di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, sebagai saksi bisu masuknya agama Islam di Pulau Lombok.


Konon pula, untuk melaksanakan sholat Jumat, kadang mesjidnya digilir. Misalnya Jumat ini di kampung A, lalu Jumat berikutnya di masjid sebelahnya. Wallahu'alam.


Sabtu, 24 Juni 2017

ULAMA dan GULMA


Tadi siang, Kang Kasep (nama samaran) japri ke WA saya. Postingannya berjudul "Imam Bukhary, The Untold Story", di mana dikisahkan bahwa baginda Imam Bukhary difitnah oleh penguasa, lalu dipenjarakan sebelum datang pertolongan Tuhan.

Gaya berceritanya berupa perbincangan antara ayah dan anak. Di akhir kisah, sang ayah berpesan begini: "Oleh karena itu kalau ada seorang ulama sedang dilanda fitnah, Kakak jangan sampai ikut-ikutan menyebarkannya. Karena Allah pasti marah".
______
Entah apa maksud Kang Kasep mengirimi saya nasihat seperti kepada anak kecil itu. Tapi saya tak peduli soal itu.

Hal yang menjadi perhatian saya adalah sikapnya yang menyamakan ulama besar sekelas Imam Bukhary dengan ulama liar yang dimaksudkannya dalam kisah itu.

Cara berpikir seperti itu jelas memutarbalikkan fakta. Bagaimana bisa fakta-fakta yang bejibun dan kasat mata dimanipulasi sebagai fitnah. Karena itu, saya membalas WA tersebut. Begini:
_______
Hatur nuhun Kang Kasep. Renungan yang sungguh menarik bagi kita sebagai Muslim penghuni negeri mayoritas di negeri ini.

Memang sejarah Islam punya banyak masa kegemilangan, termasuk memiliki ulama sang pencerah almukarom Imam Bukhary.

Di Indonesia pun kita mengenal sejumlah nama besar yang menampilkan Islam sebagai rahmatan lil'alamin seperti yang dicontohkan sang junjunan, Nabi Besar Muhammad SAW. 

Contohnya adalah para wali, yang menyuburkan Islam di Nusantara. Belakangan kita juga mengenal K. H. Hasyim Asy'ari pendiri Nahdlatul Ulama dan K. H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Keduanya betul-betul mewakili kaum mayoritas Islam Indonesia, dan telah menggerakkan ummatnya di akar rumput sebagai warga negara yang Islami. Para pemimpin dan para ulama pelanjutnya juga menjaga amanah para pendahulunya dengan sebaik-baiknya. Tak sedikit di antaranya yang berhasil jadi umara.

Meskipun ada perbedaan pandangan dalam berbagai hal di antara NU dan Muhammadiyah, seperti yang dapat kita amati hingga sekarang, tapi keduanya tetap saling menghormati dan senantiasa menjaga keutuhan negara kita tercinta. Belum pernah ada perbedaan pandangan yang meruncing dan mengancam keutuhan bangsa. Bahkan, dalam takaran tertentu, di komunitas tertentu, perbedaan tersebut menjadi lahan yang subur untuk menjadi bahan candaan, ... bukan menjadi sarana perpecahan. Termasuk kategori ini misalnya telunjukyang diutek-utek, pakai usholi atau tidak, pakai qunut atau tidak, taraweh dalam berbagai versi banyaknya rakaat, dan lain-lain. Bahkan, cara menentukan hilal dalam penetapan ramadhan, idul fitri, idul adha, ... semuanya berakhir hepi ending, jauh dari pemicu perpecahan.

Kita juga sempat mengalami perbedaan pendapat dalam perjalanan sejarah bangsa karena perbedaan ideologi. Namun semuanya diproses sesuai hukum yang berlaku, ... dan terbukti aturan dan hukum positif yang ada di negeri ini, selama ini, sudah dapat menjaga keutuhan negara hingga 72 tahun sekarang ini.

Karena itu, yang harus disikapi dengan cermat dan teliti sekarang ini adalah kelompok minoritas pendatang baru yang mengatasnamakan mayoritas Islam. 

Seperti gulma yang mengganggu tanaman utama, kelompok minoritas ini dipimpin oleh ulama liar, dengan perilaku non-Islami yang memecah belah persatuan bangsa, menghina Pancasila, menghina lambang negara, menghina agama lain, menyebarkan hoax yang insinuatif provokatif, dan lain-lain. Dan sebagai orang Sunda tentu saja kita juga merasa terhina ketika sapaan silaturahmi "sampurasun" dilecehkannya menjadi "campur racun".



Lebih celaka lagi, setelah beberapa kelakuannya itu memanen tuntutan di pengadilan (termasuk 2 tindak pidana yang sudah berstatus Tersangka), ... ehhh dia malahan kabur. 

Sungguh nyata perbedaan sikap antara ulama liar itu dengan Almukarom Imam Bukhary. Bagaimana manusia macam begituan mau disetarakan dengan almukarom Imam Bukhary? Mungkin ada baiknya kalau hasil renungan Kang Kasep itu dikirimkan juga ke ulama liar itu. Kasihan para pengikutnya yang ternyata dipimpin oleh ulama liar yang tidak Islami.

Karena itu, semoga kita "teu kabawa ku sakaba-kaba", oleh ulama liar dan aliran Islam baru yang sangat minoritas itu, tetapi dalam gerakannya senantiasa mengatasnamakan mayoritas Islam.

Mari kita menghormati para ulama Islam kita sebagai pewaris para nabi, dengan menyianginya dari ulama liar, ulama abal-abal, yang menggunakan simbol-simbol keislaman untuk mengadu-domba; yang dalam  terminologi Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, disebut sebagai ulama palsu.

Mari kita bergandengan tangan dalam wadah organisasi Islam yang sudah terbukti selama puluhan tahun dapat menjaga persatuan dan keutuhan bangsa. Aamiin.

Minggu, 16 Oktober 2016

JAMBI dan Batanghari

Tak jauh dari pusat kota Jambi, melintas Sungai Batanghari. Di malam hari, Batanghari penuh pesona warna-warni. Dipandang dari Jembatan Gentala Arasy, di sebelah kiri terpampang tulisan Jambi Kota Seberang, dan di sebelah kanan ada tulisan Gentala Arasy. Baik ke kanan maupun ke kiri, kita akan disuguhi pemandangan yang indah.

Batanghari adalah sungai yang spesial, karena merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera, yang punya nilai sejarah tinggi, sebagai sentral perdagangan bagi Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Dharmasraya. Mata air sungai ini berasal dari Gunung Rasan, dan yang menjadi hulu dari sungai ini adalah Danau Di Atas (Sumatera Barat), yang setelah menempuh perjalanan jauh bermuara di Laut Cina Selatan.



Jambi Kota Seberang adalah wajah Kota Jambi sebenarnya, tempat warga asli melayu jambi tinggal beserta adat istiadatnya, serta tempat peninggalan benda bersejarah yang masih bertahan dan terjaga dari gerusan zaman.

Sejak tahun lalu di sini diresmikan jembatan pedestrian tempat orang berlalu-lalang, tanpa gangguan roda dua atau empat. Jembatan sepanjang 503m ini menghubungkan Kota Jambi dengan Kampung Seberang, yang dulu harus menyebrang dengan getek (perahu) atau kendaraan darat tapi harus melingkar jauh ke barat dulu, sebelum berputar ke arah jembatan. 

Di ujung seberang jembatan pedestrian, ada jam gadang Jambi atau dikenal dengan menara Gentala Arasy. Di dalam Menara Gentala Arasy itulah terdapat museum mini tentang Islam dan melayu Jambi. Inilah salah satu ikon wisata baru yang menarik di Kota Jambi. Menara ini menggambarkan sejarah penyebaran Agama Islam di Kota Jambi. Bentuknya menyerupai bangunan masjid yang dilengkapi dengan menara. 



Menara ini dimanfaatkan sebagai museum islami. Di museum ini, kita dapat melihat berbagai macam bukti dan sejarah perkembangan Islam di Kota Jambi. Di antaranya ada mushaf Al-Qur’an terbesar di Sumatera berukuran 1,25m x 1,80m. Ada juga Al-Qur’an peninggalan abad ke-19 yang terbuat dari kertas Eropa, tinta Cina merah dan hitam yang tidak memiliki sampul. Selain itu ada Kitab Ilmu Albayan, Kitab Fiqih, dan Tafsir Al-Quran (302 halaman) yang ditulis abad ke-16 dalam bahasa Arab, tinta Cina dan kertas Eropa.

Masih di bagian dalam bangunan, ada ruangan teater yang menayangkan film perkembangan Islam di Jambi dan beberapa cerita rakyat; -- saat saya berkunjung sedang ditayangkan “Rumah untuk Nyai” (Nyai dalam bahasa Jambi berarti Nenek). Kisah sedih tentang kemiskinan penduduk, yang dikemas dengan penuh canda.


Di luar keindahan sekitar jembatan, ada juga Danau Sipin dan tempat yang monumental, seperti Mesjid Seribu Tiang, dan patung Pahlawan Sultan Thaha di pelataran gubernuran.



 



Jumat, 21 Agustus 2015

AMBON Manise: Mesjid, Gereja, Benteng Amsterdam



Ambon Manise (1)

Sebagai wilayah kepulauan, Maluku/Ambon memiliki keindahan alam berupa pemandangan laut dan pantai. Namun demikian, banyak destinasi wisata lain, termasuk wisata religi dan sejarah perjuangan kemerdekaan.

Salahsatunya adalah Masjid Tua Wapauwe yang terletak di daerah Kaitetu, Leihitu, Maluku Tenggara. Masjid yang masih berdiri kokoh ini merupakan masjid tertua di Maluku, yang dibangun tahun 1414 Masehi oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo (Maluku Utara). Untuk mencapainya, dari pusat Kota Ambon perlu waktu sekitar satu jam perjalanan darat.  Saat berkunjung ke mesjid ini, saya bertemu dengan Pak Muhtar, penjaga Mesjid Tua Wapauwe, yang menjelaskan berbagai hal tentang mesjid ini.



Masjid ini mengalami perpindahan tempat akibat gangguan Belanda yang menginjakkan kakinya di Tanah Hitu pada tahun 1580 setelah Portugis pada tahun 1512. Menurut cerita rakyat, konon masjid ini berpindah secara gaib pada suatu hari di tahun 1664, saat masyarakat bangun pagi ternyata masjid sudah ada di tempat sekarang ini. 

Masjid ini unik, karena konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu; empat pilar penyangga yang kokoh terbuat dari kayu nani (ulin). Meski pernah direnovasi berkali-kali, masjid ini tetap asli karena tidak mengubah bentuk inti masjid sama sekali. Dapat dikatakan, masjid ini adalah masjid tertua di tanah air yang masih terpelihara keasliannya hingga kini.

Di mesjid ini antara lain terdapat AlQuran Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis tangan pada tahun 1590 pada kertas produk Eropa. Tampak terawat meskipun sudah ada sedikit kerusakan seperti berlobang kecil, sebagian seratnya terbuka dan tinta yang pecah akibat udara lembab. Di masjid ini terdapat timbangan zakat, yang berat batunya 2,5 kg (basis zakat fitrah). Juga terdapat lampu penerangan, yang awalnya diisi minyak, namun kini diganti bohlam. Tulisan dua kalimat syahadat tertulis bagian atas pintu yang kayunya sudah rapuh. Dua diantara empat pilar bangunan yang masih asli dan terbuat dari kayu nani (ulin), tanpa menggunakan paku ataupun pasak ... Pada bagian ini terdapat mimbar khutbah dan lampu gantung.

Sekitar 150 meter dari masjid ke arah utara, terdapat sebuah gereja tua peninggalan Portugis dan Belanda. Lalu, 50 meter kemudian berdiri dengan kokoh Benteng Amsterdam.



Selasa, 12 Mei 2015

Kapan Pengusaha Muslim Bangkit ?

                   
Judul Buku:  Kebangkitan Pengusaha Muslim

Editor: B. Wibowo

Penerbit: PT Bina Rena Pariwara, Jakarta.

Cetakan Pertama: 1991.                   
Tebal: 266 halaman (termasuk indeks).


Kapan Pengusaha Muslim Bangkit ?
Oleh Tika Noorjaya

KETIKA menegaskan pemilihan kata resurgence (kebangkitan kembali) – dan bukan reassertion ataupun revivalims – Chandra Muzaffar, seorang intelektual muslim Malaysia, dalam salahsatu tulisannya yang dimuat dalam buku Islam and Society in Southest Asia (1986) antara lain menyebutkan bahwa pemilihan kata itu sedikitnya didasari tiga argumen yang kuat. Pertama, konsep ini merupakan suatu pandangan dari dalam, di mana kaum Muslimin melihat bertambahnya dampak agama diantara para penganutnya. Kedua, menunjukkan bahwa keadaan tersebut telah terjadi sebelumnya. Ketiga, sebagai suatu konsep mengandung paham tentang suatu tantangan, bahkan suatu ancaman terhadap pengikut pandangan lain, baik di mata ”penantang” maupun ”yang ditantang”.
Buku Kebangkitan Pengusaha Muslim yang diangkat dari ”Dialog Bisnis Muktamar Muhamamdiyah ke-42” di Yogyakarta ini menampilkan hasil pemikiran 12 orang tokoh nasional dengan latar belakang beragam: kyai, menteri, birokrat, sultan, pengusaha. Mereka – Rahimi Sutan, KH. AR Fachruddin, Arifin M. Siregar, Nasrudin Sumintapura, Karnaen A. Perwataatmadja, Mar’ie Soetrisno Bachir, Harry Kuntoro, Sri Sultan Hamengku Buwono X – memusatkan kajian pada tema sentral ”pengembangan potensi bisnis di kalangan Muhammadiyah”.
Para pembaca maupun penulis buku ini, secara implisit, tampaknya menyadari ketiga argumen dalam konsep ”kebangkitan” tersebut, tetapi memandangnya dalam kaitan khusus, yakni ”kebangkitan” pengusaha muslim. Meskipun demikian, cakrawala gagasan yang tertuang, baik dalam makalah, presentasi maupun dalam diskusi, tidak terbatas pada pengusaha di lingkungan Muhammadiyah, melainkan lebih meluas pada wawasan pengusaha muslim, terutama muslim Indonesia. Manakala Muhammadiyah ”dipotret”, muslim Indonesia adalah bingkai penyekatnya.
Keragaman latar belakang pembicara serta cara penyajian yang membentang dari yang sangat serius dan argumentatif hingga yang to the point dan terkesan santai, tidak mengurangi semangat yang terkandung di dalamnya.
Potensi Ummat
Kebangkitan pengusaha muslim Indonesia, sesuai dengan argumen pertama, jelas datang dari dalam kelompok ini, dan tidak ditiup-tiupkan dari kalangan lain yang mungkin menyimpan maksud-maksud tertentu. Kalaupun ada pihak-pihak di luar pengusaha muslim yang ingin melihat kebangkitan pengusaha muslim, tak lain adalah saudara sendiri, yakni ummat Islam pada umumnya, yang ingin melihat kebangkitan pengusaha muslim sebagai bagian dari kebangkitan Islam pada umumnya.
Harapan akan kebangkitan pengusaha muslim secara obyektif bisa didekati paling tidak dari potensinya. Dari segi ini, Islam tak pelak, adalah agama mayoritas di Indonesia, sehingga tidak hanya berpotensi untuk melahirkan pengusaha-pengusaha muslim yang cukup banyak, tapi juga sumber pasar utama bagi produk-produk yang dihasilkan.
Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk tidak meninggalkan soal perekonomian. Dengan ulasan yang santai namun berbobot filosofis yang berat, KH AR Fachruddin menguraikan bagaimana masalah perekonomian dikupas dalam Al-Qur’an. Riwayat Nabi Muhammad pun dijadikan contoh tentang bagaimana penilaian Nabi terhadap orang yang semata-mata mementingkan ibadat kerokhanian (shalat, puasa, di mesjid – sampai tidak pernah keluar dari mesjid - ) namun melupakan masalah keduniawian (halaman 31-33).
Islam juga mengajarkan kewiraswastaan. Sejarah telah mencatat bahwa salah satu kekuatan ummat Islam adalah kepiawaian dalam berdagang. Muhammad sendiri adalah seorang pedagang, sebelum dinobatkan menjadi rasulullah. Dalam kaitan ini Probosoetedjo (khususnya di halaman 84-88) dan Soetrisno Bachir (khusus di halaman 171-174) membahasnya, juga, dengan mengutip beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi.
Peluang dan Pendukung
Peluang dan faktor pendukung kebangkitan pengusaha muslim antara lain berkaitan dengan era pembangunan di Indonesia, terutama dengan penekanan pada aspek pemerataan dalam Trilogi Pembangunan Nasional sekarang ini. Berbagai kegiatan pemerintah seperti penyaluran Kredit Usaha Kecil (KUK), sistem bapak-angkat, pelaksanaan pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR) yang terdapat pada berbagai sektor – pertanian, industri, jasa – dapat diartikan sebagai peluang bagi pengembangan peranan ummat Islam, karena tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar ummat Islam Indonesia masih hidup dalam tingkat kehidupan yang rendah, di bawah garis kemiskinan.
Peranan pajak yang ”mengambil” sebagian kekayaan orang-orang kaya untuk negara, pada akhirnya juga memberi dampak positif bagi orang miskin – kaum dhuafa yang masih hidup dalam kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.
Pesatnya perkembangan Islamic Development Bank dan hangatnya pembicaraan mengenai Bank Islam akhir-akhir ini dapat merupakan peluang dan pendukung alternatif pembiayaan bagi umat Islam yang dihadapkan pada aspek haramnya riba dalam memahami interest (bunga uang) yang berlaku dalam perbankan konvensional selama ini. Dalam hal ini bank Islam menawarkan konsep ”bagi hasil”, yang menghilangkan keharusan pembayaran biaya bunga uang (interest sama dengan nol) diganti dengan bagi hasil yang diperoleh dari hasil usaha. Bank tanpa bunga mensyaratkan adanya kebersamaan, keterbukaan dan kejujuran antara bank dan nasabahnya, sehingga kedua belah pihak dapat merasakan adanya keadilan (halaman 224).
Kebangkitan Islam yang dipercayai akan terjadi pada abad ke-15 juga dapat dianggap sebagai faktor pendukung yang cukup positif, terutama dalam artinya sebagai penggugah semangat keislaman. Selanjutnya, kehadiran organisasi masyarakat yang bernafaskan Islam, disamping yang sudah ada, dipandang sebagai peluang untuk lebih memperbesar keberadaan ummat muslim.
Tegasnya, peluang dan faktor pendukung bagi kebangkitan pengusaha muslim – sebagai bagian dari kebangkitan Islam – tidak hanya berada dalam lingkaran Muhammadiyah atau ummat Islam semata-mata tapi juga secara nasional, bahkan internasional.
Kelemahan dan Tantangan
Kelemahan dan tantangan yang dihadapi, tak lepas dari pengalaman selama ini, karena baik secara kuantitas maupun kualitas, kemampuan pengusaha muslim Indonesia lebih banyak tertinggal, terutama yang menyangkut profesionalisme, khususnya ketertinggalan dibanding pengusaha nonpri. Tentu saja hal ini bisa ditarik jauh ke belakang, tatkala pada masa penjajahan keberadaan pengusaha muslim mendapat tekanan berat dari penguasa, sementara pengusaha nonpri justru mendapat angin dan previlise. Dalam kaitan dengan masa kini pun, bahkan, Probosutedjo berandai-andai ”... seandainya para pengusaha pribumi juga memperoleh kemudahan yang sama dengan pedagang-pedagang keturunan Cina, kiranya kelihaian pengusaha pribumi tidak kalah dengan pengusaha keturunan Cina”, kata Probo (halaman 88). Tak pelak, ini adalah suatu andaian, yang menantang pembuktian.
Tantangannya, bagaimana potensi dan peluang yang besar bagi kebangkitan pengusaha muslim tidak malah berbenturan dengan fakta saat ini, sehingga tanpa pengendaliannya bisa tergelincir pada masalah SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan). Bagaimanapun, pengusaha muslim Indonesia adalah warga negara Indonesia yang telah berikrar diri dan bernaung dalam suatu negara kebangsaan Indonesia dengan asas tunggal Pancasila – dan bukan negara Islam, dengan memberlakukan syariah Islam. Kesadaran ini bahkan telah ditanamkan pada awal pembentukan negara ini oleh para founding fathers kita.
Karenanya, tidaklah berlebihan kalau ”Dialog Bisnis Muhammadiyah” ini antara lain menyimpulkan perlunya penggalangan solidaritas nasional guna menumbuhkan dan meningkatkan perekonomian rakyat, serta solidaritas muslim guna menumbuhkan perekonomian ummat pada umumnya dan Muhammadiyah pada khususnya. Juga ditekankan perlunya digalang dan ditumbuhkan jiwa profesionalisme ummat sesuai tuntutan dan perkembangan jaman (halaman 20).
Catatan Penutup
Akhirnya, tak ada gading yang tak retak. Dengan mengacu konsep “kebangkitan kembali” yang dikemukakan Chandra Muzaffar, satu hal yang kurang dibahas secara cukup luas dalam buku ini adalah latar sejarah tentang kejayaan pengusaha muslim di masa lalu, yang menyebabkan pengusaha muslim masa kini ingin melihat “kebangkitannya kembali”. Dalam hal ini, misalnya, Junus Jahja hanya menyebut beberapa nama saudagar Islam yang kaya, seperti Djohan Djohor, Tasripin, Nitisemito, Tjokrosuharto, H. Bilal, Dasaad, Muchsin, Rahman Tamin, H. Sierat, H. Djuned, Hasyim Ning, Gobel (halaman 139-140). Tanpa mengungkapkan, bagaimana perjalanan bisnis mereka hingga dapat timbul dan memuncak ke tataran wiraswastawan nasional yang berhasil.
Dengan mengacu pendapat Junus Jahya pula, mungkin kita harus menggali dan mengungkapkan etika pembangunan para saudagar Islam yang berjaya, baik kini maupun masa lampau. Selain itu, menurut hemat penulis, hal yang mungkin perlu ditelusuri juga adalah mengapa beberapa wiraswastawan Islam yang berhasil, dalam perjalanannya, menjadi jatuh dan tak mampu bangkit kembali. Apakah merka kalah bersaing, atau karena tidak diikutkan dalam persaingan?
Kalau benar sinyalemen SH Alatas (Mitos Pribumi Malas, LP3ES Jakarta, 1988) bahwa penyingkiran golongan pedagang Melayu dan Jawa (yang secara garis besar berarti juga penyingkiran golongan pengusaha muslim, - penulis) merupakan proses terhadap yang bermula pada abad ke-17 oleh Belanda ... dan – hingga ke suatu tingkatan tertentu – oleh penguasa setempat, maka mungkinkah kejayaannya bisa dibangkitkan secara bertahap pula? Apakah cara demikian cukup memadai dalam era perubahan dan informasi yang sedemikian cepatnya sekarang ini? Lebih menarik lagi, apakah mungkin ”penguasa setempat” kita saat ini masih melakukan tindakan semacam yang dilakukan para pendahulunya – selama empat abad yang lalu? Kalau demikian halnya, sungguh ironis dengan makna kemerdekaan yang ditebus dengan pengorbanan para pahlawan.
Bagaimanapun, dari keberhasilan dan kegagalan mereka, tampaknya bisa diambil hikmah bagi generasi kini maupun generasi mendatang. Masalahnya, kapan mereka akan bangkit? Dapatkah mereka bangkit dengan kekuatan sendiri-sendiri? Kalau tidak, siapa yang akan membangkitkan?
Tidak cukup hanya dengan menyelenggarakan satu-dua diskusi atau diungkap dengan senyum seremoni, apalagi kalau sekadar basa-basi. Kini, perlu aksi!
Langkah Muhammadiyah untuk menyelenggarakan diskusi bisnis di kalangan pengusaha Muslim ini patut dipuji, namun masih memerlukan penjabaran program kegiatan nyata. Bukan hanya di kalangan Muhammadiyah semata-mata, tapi juga pengusaha muslim pada umumnya.


Resensi buku ini dimuat Suara Karya, 20 Agustus 1991.

Rabu, 28 September 2011

Islam di Asia Tenggara: perspektif sejarah




Islam di Asia Tenggara: perspektif sejarah
Penyusun: Sharon Siddique, Yasmin Hussain
Penerjemah: A. Setiawan Abadi
Penyunting: Tika Noorjaya
Penerbit: LP3ES, 1989
ISBN: 9798015584, 9789798015588
Tebal: 296 halaman