Tadi siang, Kang Kasep (nama samaran) japri ke WA saya. Postingannya berjudul
"Imam Bukhary, The Untold Story", di mana dikisahkan bahwa baginda
Imam Bukhary difitnah oleh penguasa, lalu dipenjarakan sebelum datang
pertolongan Tuhan.
Gaya berceritanya berupa perbincangan antara ayah dan anak. Di akhir kisah,
sang ayah berpesan begini: "Oleh karena itu kalau ada seorang ulama
sedang dilanda fitnah, Kakak jangan sampai ikut-ikutan menyebarkannya. Karena
Allah pasti marah".
______
Entah apa maksud Kang Kasep mengirimi saya nasihat seperti kepada anak kecil
itu. Tapi saya tak peduli soal itu.
Hal yang menjadi perhatian saya adalah sikapnya yang menyamakan ulama besar
sekelas Imam Bukhary dengan ulama liar yang dimaksudkannya dalam kisah itu.
Cara berpikir seperti itu jelas memutarbalikkan fakta. Bagaimana bisa
fakta-fakta yang bejibun dan kasat mata dimanipulasi sebagai fitnah. Karena
itu, saya membalas WA tersebut. Begini:
_______
Hatur nuhun Kang Kasep. Renungan yang sungguh menarik bagi kita sebagai Muslim
penghuni negeri mayoritas di negeri ini.
Memang sejarah Islam punya banyak masa kegemilangan, termasuk memiliki ulama
sang pencerah almukarom Imam Bukhary.
Di Indonesia pun kita mengenal sejumlah nama besar yang menampilkan Islam
sebagai rahmatan lil'alamin seperti yang dicontohkan sang junjunan, Nabi Besar
Muhammad SAW.
Contohnya adalah para wali, yang menyuburkan Islam di Nusantara. Belakangan
kita juga mengenal K. H. Hasyim Asy'ari pendiri Nahdlatul Ulama dan K. H. Ahmad
Dahlan pendiri Muhammadiyah. Keduanya betul-betul mewakili kaum mayoritas Islam
Indonesia, dan telah menggerakkan ummatnya di akar rumput sebagai warga negara
yang Islami. Para pemimpin dan para ulama pelanjutnya juga menjaga amanah para pendahulunya
dengan sebaik-baiknya. Tak sedikit di antaranya yang berhasil jadi umara.
Meskipun ada perbedaan pandangan dalam berbagai hal di antara NU dan
Muhammadiyah, seperti yang dapat kita amati hingga sekarang, tapi keduanya
tetap saling menghormati dan senantiasa menjaga keutuhan negara kita tercinta.
Belum pernah ada perbedaan pandangan yang meruncing dan mengancam keutuhan
bangsa. Bahkan, dalam takaran tertentu, di komunitas tertentu, perbedaan
tersebut menjadi lahan yang subur untuk menjadi bahan candaan, ... bukan
menjadi sarana perpecahan. Termasuk kategori ini misalnya telunjukyang
diutek-utek, pakai usholi atau tidak, pakai qunut atau tidak, taraweh dalam
berbagai versi banyaknya rakaat, dan lain-lain. Bahkan, cara menentukan hilal
dalam penetapan ramadhan, idul fitri, idul adha, ... semuanya berakhir hepi
ending, jauh dari pemicu perpecahan.
Kita juga sempat mengalami perbedaan pendapat dalam perjalanan sejarah bangsa
karena perbedaan ideologi. Namun semuanya diproses sesuai hukum yang berlaku,
... dan terbukti aturan dan hukum positif yang ada di negeri ini, selama ini,
sudah dapat menjaga keutuhan negara hingga 72 tahun sekarang ini.
Karena itu, yang harus disikapi dengan cermat dan teliti sekarang ini adalah
kelompok minoritas pendatang baru yang mengatasnamakan mayoritas Islam.
Seperti gulma yang mengganggu
tanaman utama, kelompok minoritas ini dipimpin oleh ulama liar, dengan perilaku
non-Islami yang memecah belah persatuan bangsa, menghina Pancasila, menghina
lambang negara, menghina agama lain, menyebarkan hoax yang insinuatif
provokatif, dan lain-lain. Dan sebagai orang Sunda tentu saja kita juga merasa
terhina ketika sapaan silaturahmi "sampurasun" dilecehkannya menjadi
"campur racun".
Lebih celaka lagi, setelah beberapa kelakuannya itu memanen tuntutan di
pengadilan (termasuk 2 tindak pidana yang sudah berstatus Tersangka), ... ehhh
dia malahan kabur.
Sungguh nyata perbedaan sikap antara ulama liar itu dengan Almukarom Imam
Bukhary. Bagaimana manusia macam begituan mau disetarakan dengan almukarom Imam
Bukhary? Mungkin ada baiknya kalau hasil renungan Kang Kasep itu dikirimkan
juga ke ulama liar itu. Kasihan para pengikutnya yang ternyata dipimpin oleh
ulama liar yang tidak Islami.
Karena itu, semoga kita "teu kabawa ku sakaba-kaba", oleh ulama liar
dan aliran Islam baru yang sangat minoritas itu, tetapi dalam gerakannya
senantiasa mengatasnamakan mayoritas Islam.
Mari kita menghormati para ulama Islam kita sebagai pewaris para nabi, dengan
menyianginya dari ulama liar, ulama abal-abal, yang menggunakan simbol-simbol
keislaman untuk mengadu-domba; yang dalam terminologi Panglima TNI, Jenderal Gatot
Nurmantyo, disebut sebagai ulama palsu.
Mari kita bergandengan tangan dalam wadah organisasi Islam yang sudah terbukti
selama puluhan tahun dapat menjaga persatuan dan keutuhan bangsa. Aamiin.