Penulis: TERE LIYE
Judul Buku: Hujan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun terbit: Januari 2016
Tebal: 320 halaman
ISBN: 978-602-03-2478-4
Di pagi yang gerimis 21 Mei 2042, penghuni bumi sedang merayakan kelahiran bayi yang ke 10 milyar, ketika sebuah gunung purba meletus, dengan kekuatan 100 kali lipat letusan Gunung Krakatau atau Gunung Tambora. Hanya sepuluh persen penduduk bumi yang selamat, termasuk Lail dan Esok, lelaki 15 tahun, yang menyelamatkan Lail dari stasiun kereta bawah tanah yang runtuh.
Hari itulah awal Lail yatim piatu di usia 13, sekaligus awal kisah cintanya. Kisah cinta yang mengalir dalam setting pasca bencana. Kisah cinta yang sunyi dalam era kecanggihan teknologi. Kisah cinta jarak jauh di antara perjuangan untuk kemanusiaan dan proyek kapal rahasia untuk penyelamatan penghuni bumi dari kepunahan. Kisah tentang Lail yang merasa bertepuk sebelah tangan.
***
“Aku ingin melupakan hujan”, kata Lail, yang putus harapan, delapan tahun setelah musibah itu. Teknologi canggih di Pusat Terafi Saraf telah sampai di tahap akhir untuk menghapus ingatan Lail tentang hujan, kesedihan dan penderitaan. Tetapi, di saat kritis itulah Esok datang, ...
***
Inilah novel terbaru Tere Liye yang berkisah tentang “Hujan”, tentang “Melupakan”, tentang “Perpisahan”, tentang “Cinta” dan tentang “Persahabatan”.
Namanya juga fiksi, penyebutan 21 Mei 2042 dalam novel ini tak usahlah terlalu dipikirkan.
Minggu, 19 Maret 2017
MATA HARi, novel karya Paui Coelho
Penulis: Paulo Coelho
Judul Buku: MATA HARI
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal: 192 halaman
ISBN: 978-602-03--3613-8.
"Langsing dan tinggi, lentur dan gemulai seperti binatang liar, Mata Hari memiliki rambut hitam yang menggelombang aneh dan membawa kita ke tempat ajaib".
Itulah salahsatu kutipan klipping koran-koran di Inggris tahun 1900an tentang Mata Hari, yang kisah nyatanya diangkat dari dokumen dinas intel Inggris, dan dibuka untuk publik pada tahun 1999.
Paulo Coelho, sang maestro penulis novel ini, menghidupkan kembali cerita tentang salah satu wanita paling misterius dalam sejarah. Dan Indonesia yang kala itu bernama Hindia Belanda, sempat menjadi tempat mukim Mata Hari bersama tentara Belanda yang menikahinya pada 11 Juli 1895. Namun keluarganya yang tidak harmonis mengantarnya untuk berkelana di Eropa, dimulai dari Perancis.
Sebagai penari, dia membuat para penontonnya syok dan berdebar-debar; sebagai wanita penghibur, daya tariknya membius pria-pria paling kaya dan berkuasa pada zaman itu.
Tetapi, ketika Perang Dunia Pertama berkecamuk, paranoia menyelimuti seantero negeri. Ia ditangkap dan dituduh melakukan kegiatan mata-mata, yang kemudian mengantarnya ke penjara dan riwayat hidupnya berakhir di depan 12 orang regu penembak pada subuh hari 15 Oktober 1917.
Itulah keputusan hukum yang ternyata disesali oleh jaksa Andre Mornet pada tahun 1947. Katanya " ... bukti yang kami miliki begitu lemah sehingga tidak mungkin cukup untuk menghukum seekor kucing sekalipun".
Judul Buku: MATA HARI
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal: 192 halaman
ISBN: 978-602-03--3613-8.
MATA HARI
Itulah salahsatu kutipan klipping koran-koran di Inggris tahun 1900an tentang Mata Hari, yang kisah nyatanya diangkat dari dokumen dinas intel Inggris, dan dibuka untuk publik pada tahun 1999.
Paulo Coelho, sang maestro penulis novel ini, menghidupkan kembali cerita tentang salah satu wanita paling misterius dalam sejarah. Dan Indonesia yang kala itu bernama Hindia Belanda, sempat menjadi tempat mukim Mata Hari bersama tentara Belanda yang menikahinya pada 11 Juli 1895. Namun keluarganya yang tidak harmonis mengantarnya untuk berkelana di Eropa, dimulai dari Perancis.
Sebagai penari, dia membuat para penontonnya syok dan berdebar-debar; sebagai wanita penghibur, daya tariknya membius pria-pria paling kaya dan berkuasa pada zaman itu.
Tetapi, ketika Perang Dunia Pertama berkecamuk, paranoia menyelimuti seantero negeri. Ia ditangkap dan dituduh melakukan kegiatan mata-mata, yang kemudian mengantarnya ke penjara dan riwayat hidupnya berakhir di depan 12 orang regu penembak pada subuh hari 15 Oktober 1917.
Itulah keputusan hukum yang ternyata disesali oleh jaksa Andre Mornet pada tahun 1947. Katanya " ... bukti yang kami miliki begitu lemah sehingga tidak mungkin cukup untuk menghukum seekor kucing sekalipun".
GENDUK, Novel karya Sundari Mardjuki
Penulis: Sundhari Mardjuki
Judul Buku: GENDUK
Penerbit:
Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbut: 2016
Tebal: 232 halaman.
ISBN-978-602-03-3219-2.
GENDUK adalah panggilan untuk Anisa Nooraini, anak yatim berusia sebelas tahun korban kisruh G30S-PKI.
Dengan setting cerita tahun 1970an, GENDUK adalah anak sekolah dasar yang pintar mengarang cerita dan menulis puisi. Dengan gaya bertutur sebagai "sang aku", memoar ini layaknya kisah nyata yang menunjukkan kepiawaian sang pengarang dalam menunjukkan konflik batin Genduk dan derita masyarakat desa paling puncak di Gunung Sindoro, Temanggung. Novel ini berkisah tentang masyarakat agraris petani tembakau yang nasibnya terpuruk akibat ulah para tengkulak, yang mereka sebut "gaok".
GENDUK melakukan pencarian jatidirinya melalui sosok sang ayah yang tak pernah dilihatnya namun selalu dirindukannya. Didera derita kemiskinan dan sakit hati atas tindakan gaok Kaduk, di suatu subuh yang dingin Genduk minggat meninggalkan Biyung, ibunya, untuk menelusuri keberadaan sang ayah, yang diyakininya berada di kota Parakan. Inilah perjalanan pertamanya keluar desa. Meski cuma sehari-semalam upaya ini menjadi titik balik dalam penyelesaian konflik.
Sundari Mardjuki, sang pengarang, membawa kita pada ketegaran, keberanian, dan kemampuan perempuan melakukan hal yang besar dan penting, bukan hanya bagi dirinya tetapi juga bagi petani tembakau di sekitarnya.
Catatan:
* Dalam format berbeda, buku ini mengingatkan buku sejenis berjudul Gadis Kretek.
Senin, 17 Oktober 2016
MALANG: Kisah Air yang Memanjat Bukit
Ternyata akal manusia bisa melawan
gravitasi. Air mengalir sekitar 1,25 kilometer dengan memanjat bukit sekitar 60
meter, melewati kebun, pematang, hutan dan sungai. Itulah produk dari sebuah
Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), yang menciptakan cara hidup baru
bagi sekitar 300 KK penduduk di Desa Rembun, Kecamatan Dampit, Kabupaten
Malang.
Air sungai yang deras digunakan untuk menghidupkan turbin. Tenaga listrik dari turbin digunakan antara lain untuk memompa air melalui pipa-pipa. Pipa air menyeberangi kebun dan sungai. Pipa air mulai menurun setelah menempuh perjalanan sekitar 1,25 kilometer dan mendaki sekitar 60 meter. Pipa air berakhir di bak penampung air (kapasitas 40.000 liter). Menampung air di tempat distribusi (16 titik) untuk diangkut ke rumah-rumah penduduk. Setelah mendaki sekitar 60 meter sepanjang kira-kira 1,25 kilometer, air menyembur di depan rumah penduduk.
Sebuah pencapaian yang patut disyukuri,
karena dari perjalanan panjang yang sempat mengecewakan, kini mereka tak perlu
lagi bersusah-payah mengambil air dari sungai yang jauh di bawah bukit sana.
Alhamdulillah, wasyukurillah. Semoga
dapat dipelihara, dan ditingkatkan manfaat dan maslahatnya bagi masyarakat.
Minggu, 16 Oktober 2016
SULAWESI TENGAH: Palu dan Sekitarnya
Sulawes
Tengah yang beribukota di Palu banyak menyimpan destinasi wisata yang indah. Di
pusat kota, ada ANJUNGAN NUSANTARA yang terletak di pinggir Teluk Palu, yang merupakan ikon baru di
kota ini. Ke depan boleh jadi akan sepopuler Pantai Losari di Makassar.
Di
sekitar anjungan ini terdapat patung kuda di sebelah kanan, lapangan gateball
di tengah, dan di sebelah kiri membentang jembatan lengkung Ponolele yang
bercat kuning. Jembatan
ini panjangnya sekitar 250m dan membentang di atas Teluk Palu Pantai Talise.
Panorama bukit sebagai latar belakang dengan
keindahan Teluk Talise menjadi kombinasi yang menakjubkan ketika memandangi
jembatan ini. Jembatan lengkung ini konon menyimpan mitos
tentang tiga ekor buaya yang suka berjemur di bawah perairan sekitarnya.
Kendati demikian, waktu saya berkunjung ke sana, yang tampak hanya seekor buaya
di kejauhan, itu pun berada di bagian timur, jauh dari jembatan lengkung bercat
kuning yang dimitoskan.
Untuk
kuliner, jangan lupa nikmati KALEDO, yang terdapat di kota Palu. Sensasi sedot
sumsum dan pisau pengiris kikil. Kaledo termasuk ikon kota Palu, karena
banyak warung dan rumah makan yang menyajikannya. Padahal, Kaledo singkatan
dari Kaki Lembu Donggala, ha ha ha.
Keluar
dari kota, kita akan sampai di dataran tinggi Salubay, Kebonkopi yang
menghasilkan berbagai jenis sayuran segar. Daerah
pegunungan ini terletak di antara Kota Palu dan Kabupaten Parigi Moutoung.
Bersuhu dingin dan pemandangan indah seperti di Puncak.
Di Parigi Moutong, berhadapan dengan pantai,
ada Taman Songu Lara dengan keindahan sejumlah bunga dan menaranya yang
menjulang tinggi. Ada juga Pantai Kayu Bura. Di pantai ini ada Rumah
Kayu di dekat Pantai Kayu Bura, pernah disinggahi Presiden Jokowi waktu
pembukaan acara Tomini Sail. Pantai Kayu Bura, artinya kayu berbusa.
Konon, di daerah sini seorang pak tua pernah menebang kayu yang berbusa.
Dengan
basis pantai yang panjang dan luas, kita juga dapat melakukan MANCING MANIA, misalnya di
belakang RM Itfar, Molui Indah, Tambu, Balaesang, Donggala. Dihitung dari Palu (ibukota
Sulteng), tempat ini sekitar 115 km atau 2,5jam perjalanan darat roda empat.
Sebagian besar melalui jalan di pinggir pantai Selat Makassar.
Sepanjang pantai, kita akan menikmati keindahan alam, antara lain di Pantai Enu.
EBONY
Komoditas yang terkenal di Sulawesi Tengah antara lain adalah Kayu-hitam ebony (Diospyros celebica), tumbuhan asli Sulawesi (Celebes). Kayunya sangat keras, berwarna coklat gelap, kehitaman, atau hitam berbelang-belang kemerahan. Harganya sangat mahal, terutama kalau sudah jadi furniture, ukir-ukiran dan patung, alat musik (misalnya gitar dan piano), tongkat, dan kotak perhiasan.
Komoditas yang terkenal di Sulawesi Tengah antara lain adalah Kayu-hitam ebony (Diospyros celebica), tumbuhan asli Sulawesi (Celebes). Kayunya sangat keras, berwarna coklat gelap, kehitaman, atau hitam berbelang-belang kemerahan. Harganya sangat mahal, terutama kalau sudah jadi furniture, ukir-ukiran dan patung, alat musik (misalnya gitar dan piano), tongkat, dan kotak perhiasan.
Karena
populasi di alam menurun drastis, maka sejak 1990 kayu ebony
dinyatakan sebagai jenis kayu yang dilindungi, eksploitasinya harus atas
persetujuan dan ijin khusus dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Di Sulawesi Tengah, selain di Poso, kayu ini
juga tumbuh dalam jumlah terbatas di daerah Enu, Tambu Sabora, menghadap Teluk
Palu.
Produk berbahan baku kayu ebony antara lain
dapat dibeli di toko Sumber Urip Ebony, Kota Palu. Harganya mulai puluhan ribu
hingga puluhan juta rupiah.
JAMBI dan Batanghari
Tak jauh dari pusat kota Jambi, melintas
Sungai Batanghari. Di malam hari, Batanghari penuh pesona warna-warni.
Dipandang dari Jembatan Gentala Arasy, di sebelah kiri terpampang tulisan Jambi
Kota Seberang, dan di sebelah kanan ada tulisan Gentala Arasy. Baik ke kanan
maupun ke kiri, kita akan disuguhi pemandangan yang indah.
Batanghari adalah sungai yang spesial, karena merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera, yang punya nilai sejarah tinggi, sebagai sentral perdagangan bagi Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Dharmasraya. Mata air sungai ini berasal dari Gunung Rasan, dan yang menjadi hulu dari sungai ini adalah Danau Di Atas (Sumatera Barat), yang setelah menempuh perjalanan jauh bermuara di Laut Cina Selatan.
Jambi Kota Seberang adalah wajah Kota Jambi
sebenarnya, tempat warga asli melayu jambi tinggal beserta adat istiadatnya,
serta tempat peninggalan benda bersejarah yang masih bertahan dan terjaga dari
gerusan zaman.
Sejak tahun lalu di sini diresmikan
jembatan pedestrian tempat orang berlalu-lalang, tanpa gangguan roda dua atau
empat. Jembatan sepanjang 503m ini menghubungkan Kota Jambi dengan Kampung
Seberang, yang dulu harus menyebrang dengan getek (perahu) atau kendaraan darat
tapi harus melingkar jauh ke barat dulu, sebelum berputar ke arah jembatan.
Di ujung seberang jembatan pedestrian, ada jam gadang
Jambi atau dikenal dengan menara Gentala Arasy. Di dalam Menara Gentala Arasy
itulah terdapat museum mini tentang Islam dan melayu Jambi. Inilah salah satu ikon wisata baru yang menarik di Kota
Jambi. Menara ini menggambarkan sejarah penyebaran Agama Islam di Kota Jambi.
Bentuknya menyerupai bangunan masjid yang dilengkapi dengan menara.
Menara ini
dimanfaatkan sebagai museum islami. Di museum ini, kita dapat melihat berbagai
macam bukti dan sejarah perkembangan Islam di Kota Jambi. Di antaranya ada mushaf
Al-Qur’an terbesar di Sumatera berukuran 1,25m x 1,80m. Ada juga Al-Qur’an
peninggalan abad ke-19 yang terbuat dari kertas Eropa, tinta Cina merah dan
hitam yang tidak memiliki sampul. Selain itu ada Kitab Ilmu Albayan, Kitab
Fiqih, dan Tafsir Al-Quran (302 halaman) yang ditulis abad ke-16 dalam bahasa
Arab, tinta Cina dan kertas Eropa.
Masih di bagian dalam bangunan, ada ruangan teater yang
menayangkan film perkembangan Islam di Jambi dan beberapa cerita rakyat; --
saat saya berkunjung sedang ditayangkan “Rumah untuk Nyai” (Nyai dalam bahasa
Jambi berarti Nenek). Kisah sedih tentang kemiskinan penduduk, yang dikemas
dengan penuh canda.
Di luar keindahan sekitar jembatan, ada
juga Danau Sipin dan tempat yang monumental, seperti Mesjid Seribu Tiang, dan
patung Pahlawan Sultan Thaha di pelataran gubernuran.
Selasa, 09 Agustus 2016
Masalah Perkebunan: Harga Turun, Muncul PHK
Masalah Perkebunan:
Harga Turun, Muncul PHK
Oleh Tika Noorjaya
MENURUNNYA harga mata dagangan hasil perkebunan tertentu kiranya
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kelesuan perekonomian dunia
sekarang ini, apalagi karena pembudidayaan tanaman perkebunan lebih banyak
diorientasikan untuk ekspor. Bahkan mata dagangan perkebunan diharapkan
menghasilkan devisa sebagai pengganti pendapatan devisa dari minyak bumi yang
harganya semakin tidak menentu.
Sebagai mata dagangan ekspor, gejolak perdagangan dunia secara
langsung terkait dengannya. Gejolak yang baik cenderung membawa pengaruh yang
baik, tetapi gejolak yang buruk tak pelak lagi membawa pengaruh yang cenderung
memburuk pula.
Terakhir, yang banyak dirasakan subsektor perkebunan adalah menurunnya
harga mata dagangan tertentu, seperti minyak sawit, teh, karet, dan yang
lainnya. Akibatnya terjadi penurunan pendapatan, yang pada gilirannya banyak
mengganggu likuiditas perusahaan termasuk tersiarnya PHK (Pemutusan Hubungan
Kerja) di lingkungan perkebunan negara, serta adanya perkebunan terlantar.
Cadangan Penyangga
Masalahnya, bagaimana para pekebun (termasuk pengelola perkebunan
milik negara) pada saat harga-harga mata dagangan kurang menggembirakan, mampu
tetap bertahan, bahkan mampu terus melanjutkan investasinya sesuai dengan
harapan.
Satu hal lagi, dari pengalaman selama ini, maka pada masa mendatang
bukan hal yang mustahil terjadi gejolak harga yang kurang menguntungkan,
meskipun mungkin secara rata-rata (dalam jangka panjang) cukup menguntungkan.
Hal ini menjadi lebih penting mengingat keberhasilan pembangunan perkebunan
rakyat selama kurang lebih dua periode Pelita, yang melibatkan ratusan ribu
atau mungkin jutaan petani pesertanya. Tentu, kita tidak mengharapkan para
pekebun meninggalkan atau menelantarkan kebunnya lantaran pendapatan mereka
dari kebunnya tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Kita juga tidak
mengharapkan apabila misalnya para pekebun karet “memperkosa” kulit karet
dengan melakukan sadapan berat.
Semua itu tidak kita harapkan, karena kita sadar bahwa hal itu akan
berpengaruh dalam jangka panjang, sementara investasinya kita biayai dengan
susah payah karena kondisi keuangan yang sulit. Bahkan sebaliknya, investasi
itu kita harapkan memberikan hasil yang semaksimal mungkin dalam waktu selama
mungkin.
Berdasarkan keyakinan bahwa budidaya tertentu dalam jangka panjang
akan cukup menguntungkan, mungkin sudah saatnya dipikirkan adanya sistem
sejenis cadangan penyangga, di mana terjadinya gejolak harga tidak terlalu
“memukul” pekebun.
Dalam sistem ini, pendapatan minimum para pekebun setiap bulannya
diupayakan tidak di bawah kebutuhan hidup keluarganya. Misalnya, pada saat
harga turun seperti sekarang, mungkin perlu dilakukan”subsidi” (yang
diperhitungkan sebagai tambahan kredit). Sebaliknya, pada saat harga baik,
ditempuh upaya yang memungkinkan para pekebun “menabung” di samping mencicil kredit.
PHK
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sekarang seakan-akan menjadi momok yang
setiap saat mengincar karyawan, tidak terkecuali karyawan perkebunan.
Meskipun seringkali diungkapkan bahwa perusahaan perkebunan tidak akan
melakukan PHK mengingat kegiatannya yang padat karya, berita yang mengaitkan perkebunan
dengan PHK sempat muncul juga, bahkan dengan “bumbu” penyedap. Hari ini
dikabarkan ada PHK di kebun “anu”, besoknya dibantah pejabat. Hari lain
dikabarkan ada PHK di kebun “itu”, besoknya dibantah pejabat yang menyatakan
bahwa yang terjadi bukan PHK melainkan “peremajaan” karyawan. Kemudian disusul
tanggapan pejabat lain yang meragukan “peremajaan” karyawan tersebut. Semakin
ramai, sekaligus membingungkan! Meskipun demikian, terkesan “adanya” PHK,
walaupun jumlahnya mungkin sulit diketahui. Seperti dipaparkan di muka, dari
penjelasan yang muncul ke permukaan, tak salah lagi hal tersebut antara lain
disebabkan menurunnya pendapatan. Atau, kalau memang PHK di lingkungan
perusahaan perkebunan baru merupakan gejala, uraian di bawah ini kiranya akan
membatalkan atau setidak-tidaknya menangguhkannya.
Penurunan pendapatan telah mengubah keseimbangan perusahaan, di mana
untuk mencapai keseimbangan baru diperlukan pertimbangan yang tidak hanya
teknis dan ekonomis, tapi juga sosial dan bahkan politis.
Kedudukan perusahaan perkebunan sebagai penerima harga di pasaran
internasional menyebabkan upaya yang ditempuh untuk mencapai keseimbangan baru
lebih bersifat ke dalam, yakni dengan melakukan upaya menurunkan harga pokok
dengan berbagai peningkatan efisiensi, meskipun barangkali masih ada
celah-celah untuk menembus pasar.
Dalam hal ini, kita mengenal tiga jenis efisiensi, yaitu efisiensi
teknis, efisiensi ekonomis, dan efisiensi sosial. Sayang, dalam rangka
efisiensi, kita seringkali terjebak pada pengertian teknis dan ekonomi saja,
sehingga penyelesaiannya pun bersifat teknis dan ekonomis. Tenaga kerja yang
biasanya mendapat proritas dikorbankan, melalui PHK atau cara lain. Padahal
beberapa pustaka menilai tenaga kerja sebagai aset utama perusahaan, kalau
dapat memanfaatkannya secara optimal. Dari sisi ini, mengembangkan sumberdaya
manusia kiranya merupakan keharusan.
Kalau memang karena kondisinya sudah sedemikian sulit sehingga
rasionalisasi tenaga kerja terpaksa perlu dilakukan, masih dapat diajukan
pertanyaan, apakah tidak lebih baik apabila PHK diberi arti lain selain
pemutusan hubungan kerja? PHK dapat merupakan kependekan dari pengurangan hari kerja,
artinya jumlah tenaga tetap, hanya diadakan pengaturan hari kerja, dengan
konsekuensi penurunan pendapatan bagi karyawan harian. Atau barangkali ada benarnya
juga saran sumber Kompas di
Departemen Pertanian yang mengatakan kalau perlu gaji direksi, staf dan
karyawan bulanan dikurangi untuk dikompensasikan kepada karyawan harian (tetap).
Dapat juga PHK diartikan sebagai peningkatan hasil kerja, yaitu dengan meningkatkan
produktivitas seluruh faktor produksi, termasuk tenaga kerja, dengan implikasi
lanjutan perlunya peningkatan pemasaran untuk memperoleh pasar baru, baik di
luar negeri maupun di dalam negeri.
Mungkin dapat digali dan dilaksanakan akronim lain di luar pemutusan
hubungan kerja, dengan memperhatikan aspek teknis, ekonomis, sosial dan politis
secara menyeluruh. Dalam hal ini, untuk melakukan perubahan tersebut seyogyanya
dilakukan pendekatan yang luwes, sehingga karyawan tidak resah karena dibayangi
PHK yang sewaktu-waktu menghempaskannya. Hal ini sekaligus menumbuhkan semangat
efisiensi dan kebersamaan yang menciptakan ruang kerja yang nyaman dengan
membukanya jendela alasan kemanusiaan.
Perkappen
Dalam perusahaan perkebunan negara, sesungguhnya pembuka jendela
alasan kemanusiaan semacam itu telah ada dengan terbentuknya Persatuan Karyawan
Perusahaan Perkebunan Negara (Perkappen) yang antara lain bertujuan memperjuangkan
perbaikan nasib dan mempertinggi taraf hidup karyawan dan purnakaryawan, dengan
peningkatan dan pengembangan perusahaan.
Dalam menanggapi isyu PHK di lingkungan perusahaan perkebunan negara,
seyogyanya Perkappen tampil sebagai penyelamat dengan memperjuangkan
kepentingan anggotanya. Dalam jangka panjang, Perkappen seyogyanya menyadari
pentingnya mengadakan perjanjian kerja bersama dengan berbagai upaya, di mana
persyaratan kerja tidak ditentukan secara sepihak (oleh perusahaan saja),
melainkan ditentukan bersama. Hal ini akan lebih menjamin terciptanya hubungan
kerja yang serasi, selaras, dan seimbang dalam kewajiban, tanggung jawab, dan
hak masing-masing pihak.
·
Tika Noorjaya, lulusan Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi IPB, Bogor, dan pernah
bekerja di sebuah perusahaan perkebunan milik negara.
Artikel ini dimuat HU Kompas, 18 Agustus 1986.
Langganan:
Komentar (Atom)



















