Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 April 2017

BOGOR: Resto Kluwih

RESTO KLUWIH, Bogor
Resto ini belum genap sebulan sejak diresmikan 13 Maret 2017. Namun, kehadirannya banyak mengundang orang untuk bertandang. 
Pertama, karena lokasinya yang mudah dijangkau, yakni di Jl. Binamarga II nomor 27 Bogor, berdekatan dengan gerbang tol Bogor.
 
Kedua, karena arsitekturnya yang ciamik, nampak keren di antara sejumlah bangunan yang ada di sekitarnya, apalagi di seberangnya berjejer taman-taman penjual tanaman hias, yang menambah keasrian resto ini. Dua pohon besar tidak ditebang, melainkan dipertahankan tumbuh dan berkembang di area resto, bahkan menerobos dan menjulang hingga ke lantai 2. Kedua pohon tersebut menjadi pemikat karena keunikannya, salahsatunya ya pohon Kluwih yang menjadi nama resto ini. Kluwih (Artocarpus Communis atau Artocarpus altilis) buahnya mirip sukun dan nangka. Tanaman ini sudah jarang kita jumpai, mungkin karena nilai ekonomisnya rendah atau masyarakat belum tahu cara pengolahannya.
 
  
Ketiga, penataan ruangan sangat efisien tetapi memberi ruang yang nyaman bagi orang-orang yang gemar selfie, welfie, atau berfotoria. Di lantai 1, ada tempat mainan anak dan sangkar burung besar. Untuk naik ke lantai 2, bukannya disediakan tangga, melainkan ada jalan melingkar. Di lantai 2, selain dekat dengan daun-daun kedua pohon besar itu, ada juga sangkar burung berbagai jenis; juga ada bemo, kendaraan favorit zaman baheula, yang kini ternyata sangat disukai oleh anak-anak kecil (dan anak besar juga). Oh ya, meskipun secara umum resto ini bersatu dengan alam terbuka, tapi di lantai 2 ada juga ruangan ber-AC bagi yang menginginkan.
                
Adapun menu makanan dan minumannya, saya kira biasa-biasa saja seperti kebanyakan resto Sunda, antara lain: Nasi Tutug Oncom, Soto Bogor, Nasi Bakar Jambal, Tempe Tepung, Semur Jengkol, Ayam Kalasan, Bajigur, Colenak, Es Tape Kelapa, Es Kelapa Alpukat, Es Jeruk Peras, Es Coklat, dll. Sajian yang menggoda untuk dinikmati pastilah paket liwet untuk 6-10 orang beralas daun pisang, yang sangat eksotik !!!. Sayang, kami harus kuciwa karena tak dapat menikmati paket tersebut. Khusus untuk sayur asem yang di dalamnya ada Kluwih (sebagai icon resto ini), sepertinya tak seenak buatan ibu saya doeloe. Terlalu manis, kurang asem, dan bau cabe merah. Semoga hal ini menjadi perhatian dari pengelola resto ini.

  
 

Oh ya, dengan membludaknya peminat, maka kita harus berbekal cukup kesabaran untuk menunggu pesanan datang. 

Minggu, 16 Oktober 2016

SULAWESI TENGAH: Palu dan Sekitarnya

Sulawes Tengah yang beribukota di Palu banyak menyimpan destinasi wisata yang indah. Di pusat kota, ada ANJUNGAN NUSANTARA yang terletak di pinggir Teluk Palu, yang merupakan ikon baru di kota ini. Ke depan boleh jadi akan sepopuler Pantai Losari di Makassar.

Di sekitar anjungan ini terdapat patung kuda di sebelah kanan, lapangan gateball di tengah, dan di sebelah kiri membentang jembatan lengkung Ponolele yang bercat kuning. Jembatan ini panjangnya sekitar 250m dan membentang di atas Teluk Palu Pantai Talise.


Panorama bukit sebagai latar belakang dengan keindahan Teluk Talise menjadi kombinasi yang menakjubkan ketika memandangi jembatan ini. Jembatan lengkung ini konon menyimpan mitos tentang tiga ekor buaya yang suka berjemur di bawah perairan sekitarnya. Kendati demikian, waktu saya berkunjung ke sana, yang tampak hanya seekor buaya di kejauhan, itu pun berada di bagian timur, jauh dari jembatan lengkung bercat kuning yang dimitoskan.

Untuk kuliner, jangan lupa nikmati KALEDO, yang terdapat di kota Palu. Sensasi sedot sumsum dan pisau pengiris kikil. Kaledo termasuk ikon kota Palu, karena banyak warung dan rumah makan yang menyajikannya. Padahal, Kaledo singkatan dari Kaki Lembu Donggala, ha ha ha.



Keluar dari kota, kita akan sampai di dataran tinggi Salubay, Kebonkopi yang menghasilkan berbagai jenis sayuran segar. Daerah pegunungan ini terletak di antara Kota Palu dan Kabupaten Parigi Moutoung. Bersuhu dingin dan pemandangan indah seperti di Puncak. 


Di Parigi Moutong, berhadapan dengan pantai, ada Taman Songu Lara dengan keindahan sejumlah bunga dan menaranya yang menjulang tinggi. Ada juga Pantai Kayu Bura. Di pantai ini ada Rumah Kayu di dekat Pantai Kayu Bura, pernah disinggahi Presiden Jokowi waktu pembukaan acara Tomini Sail. Pantai Kayu Bura, artinya kayu berbusa. Konon, di daerah sini seorang pak tua pernah menebang kayu yang berbusa.







Dengan basis pantai yang panjang dan luas, kita juga dapat melakukan MANCING MANIA, misalnya di belakang RM Itfar, Molui Indah, Tambu, Balaesang, Donggala. Dihitung dari Palu (ibukota Sulteng), tempat ini sekitar 115 km atau 2,5jam perjalanan darat roda empat. Sebagian besar melalui jalan di pinggir pantai Selat Makassar.



Sepanjang pantai, kita akan menikmati keindahan alam, antara lain di Pantai Enu.




EBONY
Komoditas yang terkenal di Sulawesi Tengah antara lain adalah Kayu-hitam ebony (Diospyros celebica), tumbuhan asli Sulawesi (Celebes). Kayunya sangat keras, berwarna coklat gelap, kehitaman, atau hitam berbelang-belang kemerahan. Harganya sangat mahal, terutama kalau sudah jadi furniture, ukir-ukiran dan patung, alat musik (misalnya gitar dan piano), tongkat, dan kotak perhiasan. 


Karena populasi di alam menurun drastis, maka sejak 1990 kayu ebony dinyatakan sebagai jenis kayu yang dilindungi, eksploitasinya harus atas persetujuan dan ijin khusus dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Di Sulawesi Tengah, selain di Poso, kayu ini juga tumbuh dalam jumlah terbatas di daerah Enu, Tambu Sabora, menghadap Teluk Palu.


Produk berbahan baku kayu ebony antara lain dapat dibeli di toko Sumber Urip Ebony, Kota Palu. Harganya mulai puluhan ribu hingga puluhan juta rupiah.

JAMBI dan Batanghari

Tak jauh dari pusat kota Jambi, melintas Sungai Batanghari. Di malam hari, Batanghari penuh pesona warna-warni. Dipandang dari Jembatan Gentala Arasy, di sebelah kiri terpampang tulisan Jambi Kota Seberang, dan di sebelah kanan ada tulisan Gentala Arasy. Baik ke kanan maupun ke kiri, kita akan disuguhi pemandangan yang indah.

Batanghari adalah sungai yang spesial, karena merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera, yang punya nilai sejarah tinggi, sebagai sentral perdagangan bagi Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Dharmasraya. Mata air sungai ini berasal dari Gunung Rasan, dan yang menjadi hulu dari sungai ini adalah Danau Di Atas (Sumatera Barat), yang setelah menempuh perjalanan jauh bermuara di Laut Cina Selatan.



Jambi Kota Seberang adalah wajah Kota Jambi sebenarnya, tempat warga asli melayu jambi tinggal beserta adat istiadatnya, serta tempat peninggalan benda bersejarah yang masih bertahan dan terjaga dari gerusan zaman.

Sejak tahun lalu di sini diresmikan jembatan pedestrian tempat orang berlalu-lalang, tanpa gangguan roda dua atau empat. Jembatan sepanjang 503m ini menghubungkan Kota Jambi dengan Kampung Seberang, yang dulu harus menyebrang dengan getek (perahu) atau kendaraan darat tapi harus melingkar jauh ke barat dulu, sebelum berputar ke arah jembatan. 

Di ujung seberang jembatan pedestrian, ada jam gadang Jambi atau dikenal dengan menara Gentala Arasy. Di dalam Menara Gentala Arasy itulah terdapat museum mini tentang Islam dan melayu Jambi. Inilah salah satu ikon wisata baru yang menarik di Kota Jambi. Menara ini menggambarkan sejarah penyebaran Agama Islam di Kota Jambi. Bentuknya menyerupai bangunan masjid yang dilengkapi dengan menara. 



Menara ini dimanfaatkan sebagai museum islami. Di museum ini, kita dapat melihat berbagai macam bukti dan sejarah perkembangan Islam di Kota Jambi. Di antaranya ada mushaf Al-Qur’an terbesar di Sumatera berukuran 1,25m x 1,80m. Ada juga Al-Qur’an peninggalan abad ke-19 yang terbuat dari kertas Eropa, tinta Cina merah dan hitam yang tidak memiliki sampul. Selain itu ada Kitab Ilmu Albayan, Kitab Fiqih, dan Tafsir Al-Quran (302 halaman) yang ditulis abad ke-16 dalam bahasa Arab, tinta Cina dan kertas Eropa.

Masih di bagian dalam bangunan, ada ruangan teater yang menayangkan film perkembangan Islam di Jambi dan beberapa cerita rakyat; -- saat saya berkunjung sedang ditayangkan “Rumah untuk Nyai” (Nyai dalam bahasa Jambi berarti Nenek). Kisah sedih tentang kemiskinan penduduk, yang dikemas dengan penuh canda.


Di luar keindahan sekitar jembatan, ada juga Danau Sipin dan tempat yang monumental, seperti Mesjid Seribu Tiang, dan patung Pahlawan Sultan Thaha di pelataran gubernuran.



 



Jumat, 03 Juni 2016

K. A. R. Bosscha, Malabar, Pangalengan


Sejak kecil saya mengenal Bosscha. Berawal karena saya pernah diajak kakak rekreasi ke makamnya di Perkebunan Malabar. Saat itu saya masih sekolah di SDN-I Pangalengan.

Setelah pindah ke Bogor pada tahun 1973 dan kuliah di IPB sejak 1976, pengetahuan saya tentang Bosscha semakin bertambah karena skripsi saya juga tentang teh, dan berlokasi di Perkebunan Kertamanah, tak jauh dari Perkebunan Malabar.

Bagi saya, memang, Karel Albert Rudolf (KAR) Bosscha lebih saya kenal sebagai ahli teh, karena pernah menjadi administratur di Perkebunan Teh Malabar. Kekaguman saya kepada Bosscha semakin bertambah tatkala saya pindah ke Bogor, dan nama Bosscha cukup dikenal karena "makam"-nya terdapat pula di Kebun Raya Bogor.

Khalayak luas mungkin mengenal Bosscha sebagai pakar astronomi karena namanya dijadikan nama observatorium tertua di Indonesia sekaligus yang terbesar di Asia Tenggara yaitu Observatorium Bosscha di Lembang - Bandung. Bagi masyarakat Bandung nama Bosscha bahkan lebih familiar lagi karena namanya diabadikan menjadi salah satu nama ruas jalan di Bandung.

Di dalam buku "Lebih Dekat dengan Karel Albert Rudolf Bosscha" kita diajak mengenal Bosscha lebih dekat, apa yang telah dilakukannya dan sumbangsihnya bagi Indonesia sehingga 85 tahun setelah kematiannya berdirilah sebuah komunitas yang menamakan dirinya Sahabat Bosscha. Komunitas ini bertekad untuk merawat, memelihara, dan meneruskan cita-cita Bosscha.

Ketika minggu lalu saya Tea-Walk bersama-sama teman-teman alumni SMPN Pangalengan, saya membayangkan berapa banyak orang yang pernah mengunjungi makamnya. Tempatnya yang asri memang senantiasa mengundang untuk dikunjungi.

Betapa banyak jasanya, dan wajarlah kalau penghargaan diberikan kepadanya, sekalipun negaranya pernah menjajah negara kita cukup lama.

BOGOR: Kebun Raya


KEBUN RAYA BOGOR

Overlooked, adalah gambaran umum kami tentang Kebun Raya Bogor (KRB) di masa lalu. Betapa tidak, tempat yang sangat bersejarah dan bergengsi itu terlepas begitu saja dari minat kami untuk mengetahui dan memahaminya dengan saksama. Bahkan, pada masa sekolah di SMAN2 Bogor dulu, kalau saja ketahuan jalan-jalan ke KRB, esoknya pastilah menjadi olok-olok atau candaan teman-teman di sekolah.

Sekarang pikiran kami berubah. Karena itu, KRB menjadi bagian dari perjalanan nostalgia kami, Jalan-Jalan Santai atau JJS. Selesai berkunjung ke sekolan di Jl Juanda 16 (SMAN2 Bogor doeloe), kami melanjutkan JJS ke KRB. Karena keterbatasan waktu, memang tak banyak lokasi yang dikunjungi, tetapi setidaknya saya pribadi terpanggil untuk suatu saat kembali berkunjung dengan waktu yang cukup, sehingga dapat melihat sebagian besar, kalau tidak semua, tempat yang mungkin dapat dikunjungi. Udara yang segar dengan kerindangan pohon beraroma hutan sungguh menyejukan pikiran.

KRB seharusnya menjadi kebanggaan warga Bogor, bahkan semua penduduk Indonesia. Betapa tidak, KRB adalah salah satu kebun raya terbesar di dunia. Luasnya mencapai 87 hektar, dengan 15.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan.

Sekitar 47 hektar tanah di sekitarIstana Bogor dijadikan lahan pertama untuk kebun botani.

Dari sejumlah catatan, diperoleh gambaran bahwa KRB mempunyai koleksi tumbuh-tumbuhan Cryptogamae, 25 spesies Gymnospermae, 51 spesies Monocotyledonae dan 2.200 spesies Dicotyledonae, usaha pengenalan tanaman ekonomi penting di Indonesia, pengumpulan tanam-tanaman yang berguna bagi Indonesia (43 jenis, di antaranya vanili, kelapa sawit, kina, karet, tebu, ubi kayu, jagung dari Amerika,kayu besi dari Palembang dan Kalimantan), dan mengembangkan kelembagaan internal di Kebun Raya yaitu: Herbarium; Museum; Laboratorium Botani; Kebun Percobaan; Laboratorium Kimia; serta Laboratorium Farmasi.

Sungguh, kekayaan yang seharusnya menjadi kebanggaan.

Sabtu, 16 Januari 2016

KARANGANYAR: Rumah Teh Ndoro Donker




Rumah Teh Ndoro Donker berlokasi di Jl. Afdeling, Kemuning, Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasinya mencolok di tengah hamparan kebun teh yang menghijau, dengan latar belakangan Gunung Lawu.

Sebagai hamba Allah yang terlahir di Pangalengan, dengan suasana yang mirip dengan di wilayah ini daerah, saya langsung terbayang sejumlah perkebunan di belahan selatan kota Bandung itu.

Boleh jadi nama Ndoro Donker dalam percaturan nasional tak seterkenal Junghuhn atau Karl Boscha di Jawa Barat yang punya sejarah panjang dan menebar maslahat hingga sekarang, namun pesona nama Ndoro Donker-lah yang konon menyebabkan Rumah Teh ini dinamai demikian.

Memasuki Rumah ini, kita dibawa pada suasana perkebunan teh di masa lalu yang menghiasi dinding rumah ini, dengan arsitektur yang kental suasana kolonial Belanda-nya. Beragam sajian teh disajikan dalam berbagai pilihan varian rasa: Premium Lady Gray Tea, White Tea, Jasmine Tea, Donker Black Tea, Radja Tea, dan varian teh lainnya. Tapi kalau anda mau kopi, coklat ataupun susu tersedia juga.

Saya yang datang ke sana agak sorean dalam suasana mendung, tak kuasa menahan perut yang lapar. Rumah Teh ini memang menyajikan camilan unik dan makan utama. Akhirnya saya memilih Lady Gray Tea, Ubi Donker dan Pisang Panggang, -- sebagai penawar dingin yang muzarab.

Jumat, 04 September 2015

BUNAKEN: Pemandangan Laut yang Indah

Pulau Bunaken terletak di bagian utara dari kota Manado, Sulawesi Utara. Pulau ini dapat ditempuh dengan kapal cepat (speed boat) atau kapal sewaan dengan perjalanan sekitar 30 menit dari pelabuhan kota Manado. 



Di sekitar pulau Bunaken terdapat taman laut Bunaken yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bunaken. Taman laut ini memiliki biodiversitas kelautan salah satu yang tertinggi di dunia. Secara keseluruhan taman laut Bunaken meliputi area seluas 75.265 hektare dengan lima pulau yang berada di dalamnya, yakni Pulau Manado Tua (Manarauw), Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Mantehage berikut beberapa anak pulaunya, dan Pulau Naen.


Berbeda dengan kunjungan saya ke sini pada tahun 1996 yang kondisi airnya agak kotor, kini airnya bersih, prasarananya juga memadai, banyak penginapan dan jalannya juga bagus. Demikian pula penyedia jasa speedboad serta yang menyewakan peralatan diving dan snorkeling.





Sayangnya, di pulau ini agaknya tak ada yang rajin mengolah ikan asap, untuk dimakan di sana ataupun menjadi buah tangan untuk dibawa pulang. Di sini saya cuma sempat makan pisang goreng dan duwegan. Ikan bakar memang ada yang nawarin, tapi tak bisa dinikmati karena masih kenyang.


Pemandangan di sini memang indah sekali. Sayang foto-foto bawah lautnya kurang jelas karena box kaca (yang ada di lantai bawah kapal) agak dalam dan agak gelap, jadi foto-fotonya tidak bagus. Kalau saja cukup waktu untuk berlibur, sebaiknya diusahakan untuk menikmati wisata diving/snorkleing, supaya bisa melihat ikan dan pemandangan di bawah laut.

Minggu, 30 Agustus 2015

Tahu SUMEDANG



Tahu Sumedang: Menebar Makna bagi Sesama, Memberi Arti bagi Negeri

Di luar popularitasnya sebagai panganan yang lezat, tahu Sumedang menyimpan sekelumit kisah tentang keligatan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam menyiasati dinamika usaha yang telah digelutinya secara turun-temurun. Dengan kiat-kiat sederhana, UMKM pengusaha tahu mampu berkembang hampir di seluruh penjuru negeri. Tanpa keluh-kesah, mereka menebar makna bagi sesama; memberi arti bagi negeri.
Ny. Een Sukaenah dan Kawan-kawannya
Pengusaha mikro seperti pasangan suami-istri Sutaryat (58) dan Ny. Een Sukaenah (57) adalah salah satu dari delapan pengusaha tahu di Situraja, Kabupaten Sumedang. Mereka menapaki usaha ini sejak awal 1980-an. Dengan masing-masing merekrut 3-6 orang pekerja, secara keseluruhan para pengusaha tersebut menghasilkan sekitar 20 ribu potong tahu per hari. Pelanggannya yang berjumlah sekitar 60 orang umumnya adalah pedagang tahu goreng yang menjajakannya di warung-warung atau berkeliling kampung. Produsen tahu sendiri menjual sebagian kecil dari produk mereka di warung masing-masing. Tanpa banyak bicara dan suara, mereka telah meningkatkan taraf kehidupannya serta menampung banyak tenaga kerja.


Begitu pula, tatkala harga Bahan Bakar Minyak (BBM) melambung, mereka mengoptimalkan pendapatan dengan mengganti BBM dengan kayu bakar yang melimpah di sekitarnya. Begitu saja. Sungguh sederhana. Lalu mereka bersyukur, karena dapat hidup layak, memperbaiki rumah, membeli tanah dan peralatan rumah, serta membekali anak-anak dengan pendidikan secukupnya untuk melanjutkan perjalanan kemanusiaan.
 Cara kerja mereka begitu sederhana, namun menarik dan bermakna. Ampas tahu, misalnya. Benda yang semula terbuang percuma, dijual sebagai pakan ternak atau bahkan lauk-pauk. Dengan disiplin, dana ekstra hasil penjualannya  setiap hari ditabung ke dalam dua celengan. Celengan kuning digunakan untuk membayar sewa warung, sementara tabungan di celengan hitam dibuka menjelang lebaran sebagai Tunjangan Hari Raya (THR) bagi karyawan  pabrik dan para pelanggannya, seperti diutarakan Ny. Een Sukaenah Sutaryat.
Peranan BMT Al-Amanah
Para pengusaha tahu itu berbagi-hasil dengan BMT Al-Amanah, suatu Lembaga Keuangan Mikro (LKM) berpola syariah. Kebutuhan modal investasi ataupun modal kerja disediakan lembaga ini setelah yakin bahwa para pengusaha tahu tersebut layak dibiayai. Dan terbukti, dari tujuh pengusaha tahu yang pernah dibiayai BMT Al-Amanah, tak satu pun yang bermasalah, seperti diungkapkan Dedi Suardi, S. Sos, salah seorang manajer di BMT Al-Amanah. Tak mengherankan kalau nilai pembiayaan bagi mereka terus ditingkatkan. 
Kesulitan yang muncul, yakni tatkala harus menyediakan agunan, dapat mereka atasi dengan kemufakatan kelompok. Sebagai contoh, agunan untuk kelompok Ny. Een yang beranggotakan tujuh orang (dengan nilai pinjaman total Rp 400 juta), disediakan oleh salah-seorang pengusaha, dengan hak dan kewajiban yang disepakati anggota kelompok. Di antara kelompoknya itu, Ny. Een sendiri menikmati pembiayaan Rp. 45 juta dengan cicilan Rp 121.000/hari dan tabungan Rp 20.000/hari. Sebelumnya, Ny. Een mendapat pembiayaan Rp. 15 juta. Dana tersebut digunakan untuk memperluas tempat usaha dan membangun tungku kayu bakar.
Agar tidak membebani dan sesuai kesepakatan anggota, maka cicilan dan bagi-hasil dikumpulkan harian untuk kemudian diperhitungkan di akhir bulan. Untuk itu, pengusaha tak usah repot datang ke kantor BMT Al-Amanah, karena petugas BMT akan dengan setia mendatangi nasabahnya setiap hari. Saat ini BMT Al-Amanah mempunyai 90 kelompok dengan jumlah anggota 5-20 orang per kelompok di antara sekitar 4.000 peminjam, termasuk di antaranya dua orang nasabah yang bermukim dan berusaha di Jakarta.
Mengingat besarnya kebutuhan masyarakat, maka selain dana yang bersumber dari modal dan tabungan anggota, BMT tersebut bekerjasama dengan perbankan seperti Bank Syariah Mandiri, Bank Jabar Syariah serta lembaga lainnya. Peranan perbankan sebagai penyedia dana bagi UMKM memang sangat penting, baik disalurkan secara langsung maupun melalui lembaga keuangan lainnya. Kemudahan perbankan dalam menyalurkan dananya kepada UMKM, juga didukung dengan makin besarnya dukungan peraturan-peraturan Bank Indonesia dalam penyesuaian prosedur pemberian kredit dan insentif kebijakan yang lebih memudahkan dan mendorong bank untuk menyalurkan kreditnya. Di samping itu, BMT Al-Amanah juga mendapat pembiayaan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).
BMT Al-Amanah bersama dengan 12 BMT lainnya di wilayah Sumedang dan Majalengka menjadi anggota Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) Sumedang sebagai organisasi yang menaunginya. PINBUK Sumedang adalah salahsatu Business Development Service Provider (BDSP) di Jawa Barat yang telah diakreditasi oleh P3UKM (Pusat Pengembangan Pendamping Usaha Kecil dan Menengah) sebagai Pendamping Usaha Kecil dan Menengah (PUKM). P3UKM adalah suatu lembaga independen yang didirikan oleh Bank Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, perbankan se-Jawa Barat, universitas, lembaga penjamin kredit serta berbagai pihak terkait lainnya. Lembaga ini memberikan penguatan berupa pelatihan, monitoring, pendampingan, dan pemberian akreditasi/sertifikasi bagi PUKM Mitra seperti PINBUK Sumedang. 
Epilog
Senyum Ny. Een Sukaenah mengembang. Pembiayaan yang diterimanya dari BMT Al-Amanah adalah rangkaian panjang kebijakan Bank Indonesia yang ditransformasikan kepada perbankan dengan pendampingan dari BDSP. Peran semua pihak itulah yang menyatukannya dalam satu sinergi dan menggulirkan dana perbankan untuk UMKM.
Ny. Een Sukaenah adalah contoh dari begitu banyak UMKM pengusaha tahu yang tersebar bukan hanya di Situraja, tetapi di seluruh Sumedang, bahkan berkiprah hampir di seluruh penjuru negeri. Tanpa keluh-kesah, UMKM pengusaha tahu mampu menebar makna bagi sesama; memberi arti bagi negeri. (Tika Noorjaya).