Tampilkan postingan dengan label Desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Desa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Maret 2017

NAMAKU DAHLIA, Kisah Kelompok Perempuan di Dusun Lubuk Beringin

Penulis: Syafrizaldi, 

Judul Buku: Namaku Dahlia. Kisah Kelompok Perempuan di Dusun Lubuk Beringin

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun Terbit: 2015

Tebal: 180 halaman

ISBN 978-602-03-1712-0.




Buku ini bukan novel, apalagi fiksi. Buku ini adalah kisah nyata, true story, 15 tahun perjuangan kelompok perempuan di Dusun Lubuk Beringin untuk keluar dari keterpurukan ekonomi. 
Di dusun pedalaman yang berjarak sekitar 350 km dari pusat ibukota Provinsi Jambi ini akan kita dapati sekelompok perempuan luar biasa. Mereka adalah organisator andal. Kegiatan "yasinan" dikreasikan menjadi arisan, yang lalu berkembang menjadi lembaga keuangan mikro yang kuat, sekaligus memberi manfaat bagi penduduk untuk memberdayakan potensi ekonomi lokal yang berbasis pertanian. Mereka berhasil mengusir rentenir dan menghalau pencari rente dari luar kampung.

Gerakan perempuan yang kemudian membentuk Koperasi Wanita Dahlia ini, memang bukan koperasi beraset dan beromset besar yang wah, ... namun semangat kemandirian dan gotong royong sungguh demikian tertanam dalam. Mereka tak sungkan mengembalikan uang bantuan dari Pemerintah yang "ada-ada saja" maunya.

Kisah perjuangan para perempuan andal ini sungguh layak menjadi referensi bagi gerakan perekonomian lokal bersemangat koperasi di seluruh penjuru negeri.

Gerakan perempuan yang kemudian membentuk Koperasi Wanita Dahlia ini, memang bukan koperasi beraset dan beromset besar yang wah, ... namun semangat kemandirian dan gotong royong sungguh demikian tertanam dalam. Mereka tak sungkan mengembalikan uang bantuan dari Pemerintah yang "ada-ada saja" maunya.

Kisah perjuangan para perempuan andal ini sungguh layak menjadi referensi bagi gerakan perekonomian lokal bersemangat koperasi di seluruh penjuru negeri.


Contoh keberhasilan semacam ini seharusnya memang didokumentasikan. Bukan untuk dicopy paste di tempat lain, karena setiap daerah berbeda masalah. Melainkan sebagai referensi bahwa ada cara lain untuk menyiasati situasi.

Senin, 17 Oktober 2016

MALANG: Kisah Air yang Memanjat Bukit

Ternyata akal manusia bisa melawan gravitasi. Air mengalir sekitar 1,25 kilometer dengan memanjat bukit sekitar 60 meter, melewati kebun, pematang, hutan dan sungai. Itulah produk dari sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), yang menciptakan cara hidup baru bagi sekitar 300 KK penduduk di Desa Rembun, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. 





Air sungai yang deras digunakan untuk menghidupkan turbin. Tenaga listrik dari turbin digunakan antara lain untuk memompa air melalui pipa-pipa. Pipa air menyeberangi kebun dan sungai. Pipa air mulai menurun setelah menempuh perjalanan sekitar 1,25 kilometer dan mendaki sekitar 60 meter. Pipa air berakhir di bak penampung air (kapasitas 40.000 liter). Menampung air di tempat distribusi (16 titik) untuk diangkut ke rumah-rumah penduduk. Setelah mendaki sekitar 60 meter sepanjang kira-kira 1,25 kilometer, air menyembur di depan rumah penduduk.




Sebuah pencapaian yang patut disyukuri, karena dari perjalanan panjang yang sempat mengecewakan, kini mereka tak perlu lagi bersusah-payah mengambil air dari sungai yang jauh di bawah bukit sana. 


Alhamdulillah, wasyukurillah. Semoga dapat dipelihara, dan ditingkatkan manfaat dan maslahatnya bagi masyarakat.

Sabtu, 05 September 2015

PONOROGO: Kampung Marjinal yang Bergerak Maju




Saya senang tatkala mendengar kabar kemajuan di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. Eko Mulyadi, yang dulu Ketua Kelompok "Karangpatihan Bangkit", kini sudah jadi Kepala Desa, ... mendapat berbagai award, dan menjadi selebriti di berbagai media massa. Sekalipun demikian, dia tetap melanjutkan pengembangan kelompok binaanya, yang antara lain beranggotakan kaum tungrahita. Semoga semakin banyak orang atau instansi yang memberikan perhatian lebih terhadap masyarakat marjinal.


   

Pengembangan usaha kelompok, yang semula hanya ternak lele, kambing dan ayam, kini sudah bertambah dengan kelinci dan sapi. Selain itu, kaum tuna grahita itu juga sudah bisa membuat bata, dan keset dari kain perca.



Saya jadi ingat tiga tahun yang lalu: 

Obsesi mengubah citra Kampung Idiot menjadi Kampung Lele, adalah perjalanan panjang berliku, namun memberikan janji untuk penyempurnaannya di belakang hari, karena perubahan yang diharapkan telah memasuki jalurnya. Setelah berhasil dibudidayakan Kelompok Masyarakat, panen perdana kolam lele milik individu para Tunagrahita ini, memberi secercah harap. Ke depan, secara harfiah, titian justru akan terjal dan mendaki: Menghijaukan gunung gundul yang kekayaannya telah terjarah dalam sejarah kampung miskin itu.

Di tempat yang gersang ini, di bagian selatan Jawa Timur, sumber air memang susah didapat, sehingga perlu regulasi yang jelas untuk kemaslahatan bersama, termasuk optimalisasi sumber air untuk pemeliharaan rumput sebagai pendukung budidaya kambing. Tak lupa, pesan moral untuk selalu berusaha.

Alhamdulillah saya sempat menjadi bagian dari wahana pengembangan masyarakat marginal, sehingga bantuan atau dorongan yang kecil sekalipun cukup berarti bagi mereka. Semoga semakin banyak pihak yang tergerak mempedulikan mereka. Aamiin.


Sabtu, 29 Agustus 2015

BALI: Desa Tradisional Penglipuran



Desa Wisata Tradisonal Penglipuran terletak di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli dengan ketinggian 500-600 m dpl. Berjarak sekitar 45 Km dari kota Denpasar. 
Desa ini dapat dicapai sekitar 1,5 jam perjalanan dari Bandara Ngurah Rai, Tuban baik menggunakan bus, mini bus ataupun kendaraan roda dua. 

 
 


Desa Penglipuran dikelilingi oleh Hutan Bambu, dengan udara pedesaan yang sejuk dan segar diselingi gesekan pohon bambu yang unik. Bambu dipakai untuk keperluan penduduk membangun rumah dan kerajinan tangan di samping keperluan upacara adat. 

Hutan ini juga berfungsi sebagai penyerap air di saat hujan dan penyedia air bersih di musim kemarau bagi desa yang berada di bawahnya.

Monumen ini dibangun oleh Penduduk Desa Penglipuran untuk mengenang Kapten Anak Agung Anom Muditha beserta pasukannya yang gugur 20 Nopember 1947 dalam menghadapi Tentara NICA selama zaman Revolusi.


Homestay: Rumah penduduk yang disewakan untuk wisatawan, dengan sewa sekitar Rp100-500 ribu per kamar/hari.


BENGKULU: Itik Talangbenih


Itik Talang Benih terlahir dari perkawinan antara itik dari Cianten, Bogor, Jawa Barat, dan burung belibis. Itik tersebut dibawa dari Jawa Barat bersamaan dengan program kolonisasi (transmigrasi) ke daerah Curup, Bengkulu pada akhir abad ke-19. Itik hasil persilangan itu telah berdomestikasi, hidup, dan berkembang biak di sini. Itik Talang Benih telah melalui seleksi alam dan beradaptasi dengan baik di lingkungan setempat.
 
 

Ketika ratusan ribu itik di 11 provinsi mati karena virus flu burung H5N1 varian 2.3.2, Itik Talangbenih baik-baik saja. Selain tahan terhadap penyakit, ciri kasatmata itik Talang Benih lehernya lebih pendek dibandingkan itik jenis lain dan badannya lebih besar, sehingga dagingnya lebih banyak. Kelebihan lainnya adalah masa bertelurnya yang lama; bisa bertelur setiap hari selama 7-8 bulan nonstop. Itik yang berumur 3 tahun pun masih bisa bertelur. Itu sebabnya, petani jarang menjual itik dewasa karena masih menghasilkan telur.
 
Sdr Nandang dan Sugianto -- keduanya asal Jawa Barat -- dengan bangga memaparkan rencana pengembangan Itik Talang Benih di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

Talang Benih memiliki daerah persawahan luas yang menjadi lumbung padi di Kabupaten Rejang Lebong. Pemandangannya asri, dengan latar belakang Bukit Barisan. Air dari hulu Sungai Musi mengalir ke sini untuk mengairi hamparan sawah penduduk. 

 


Tahun 1908 kontrolir Kepahiang, DG Hoeyer, bersama beberapa kepala marga mengusulkan kolonisasi (transmigrasi) ke daerah Bengkulu, agar ilmu yang tinggi di bidang pertanian masyarakat Jawa akan dapat memajukan daerah Bengkulu. Setahun kemudian dibukalah tiga desa kolonisasi di daerah Rejang, termasuk Talang Benih. Mereka mayoriritas didatangkan dari Sunda. Tak heran kalau saya bertemu dengan Kang Nandang asal Jelekong, Majalaya.

Jumat, 21 Agustus 2015

GORONTALO: Desa Wisata Religius



GORONTALO: Desa Wisata Religius

Desa Bongo (Desa Kelapa), Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo merupakan daerah yang dikembangkan sebagai Desa Wisata Religius Bubohu. Inilah salah satu daya tarik wisata terbaik di Indonesia Timur. 

Kekhasan desa ini antara lain setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW (12 Rabiul Awal) digelar acara kolosal membuat walima (seni membuat kue tradisional khas Gorontalo) serta tolangga (miniatur kubah masjid yang berhiaskan kue bolu kering). Walima ini diarak ke Masjid Walima Emas, yang dilengkapi dengan kubah masjid berbentuk walima yang bersinar terang di malam hari. Selain itu, di desa ini juga terdapat Museum Pusat Fosil Kayu.




Lokasinya berjarak sekitar 2 jam perjalanan darat dari Bandara Jalaluddin, Gorontalo. Jika ditempuh dengan kendaraan roda dua atau roda empat dari kota Gorontalo cukup 20 menit saja. Jalannya beraspal mulus dengan banyak tikungan dan tanjakan khas di lereng pegunungan. Sepanjang jalan, kita menyaksikan hamparan keindahan Teluk Tomini. Gunung Tidur yang mempesona sangat cocok bagi peminat outbond. Ada juga Pasar Subuh yang masih mempertahankan cara barter dalam perdagangan antara penjual dan pembeli.

Pak Abdul Razak Umar adalah lulusan SPG, tapi berhasil menjadi petani teladan di Gorontalo. Pak Razak kini mampu menanam Alfaalfa (Medicago sativa L), keluarga leguminosa yang berasal dari Pegunungan Mediterania (subtropis), seperti yang telah dilakukan DR. Nugroho di Boyolali, yang kemudian menjadi bahan dasar untuk membuat microba super decomposer, dengan nama MA-11. Tanaman ini dikenal sebagai Bapak Herba dari semua tumbuhan, dan kaya akan nutrisi. Di dalam AlQuran, tertulis pada surat An-Naba. Daun Alfaafa dapat dijadikan sumber gizi dan herbal untuk segala macam tujuan, baik pakan maupun pangan.

Teknologi ini dapat mengembalikan kesuburan tanah, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas tanaman dan ternak, yang memungkinkan untuk mengembangkan sistem pertanian terpadu, Karena mengarah ke pertanian organik, maka teknologi ini secara bertahap akan mengikis keperluan terhadap pupuk dan pestisida. Dengan cara ini, dana subsidi pupuk yang nilainya amat besar, tak perlu dikeluarkan. Kedaulatan pangan akan dapat diraih, melalui produk pertanian dan peternakan. Lebih dari itu produk yang dihasilkan adalah tanaman/ternak organik yang sehat dan bernilai tinggi secara ekonomi.


Pak Sujiono adalah transmigran dari Blitar, Jatim sejak 5 tahun lalu, yang berhasil meningkatkan taraf hidupnya. Kini, ia menjadi Ketua Kelompok Ternak Sapi Marga Makmur bersama 30 anggotanya di Desa Puncak, Pulubala, Gorontalo. Kelompok ini juga berhasil menanam Alfaalfa, seperti Pak Razak. Mereka sangat yakin bahwa masa depan akan lebih baik, dengan pertanian terpadu antara tanaman dan ternak, bahkan ikan. Keyakinan yang juga dirasakan anggota Kelompok Ternak Sapi Aspuri yang diketuai Ibu Rosiyati Arsad.

Kelompok Pak Sujiono dan Ibu Rosiyati