Jumat, 29 Desember 2017

MADURA: Garam Asin, Bisakah Berbuah Manis?


Mengamati ribut-ribut soal kelangkaan garam belakangan ini, saya jadi teringat bahwa 4-5 tahun yang lalu saya pernah terlibat dalam suatu penelitian singkat tentang garam rakyat.
Pada 20 Juli 2012 saya berkunjung ke Sampang, Madura, untuk melihat peta permasalahan garam serta melihat langsung bagaimana proses produksinya di lapangan. Hasilnya? Seperti sekarang, saat itu ditengarai ada upaya untuk conditioning impor garam dengan menghembuskan isu kelangkaan garam. Petani garamnya sendiri tak kunjung menerima hasil yang layak atas kerja kerasnya.
Tahap berikutnya, melakukan uji coba aplikasi teknologi tepat guna Garam Solusi (Ramsol) di Cirebon (Maret 2013). Teknologi ini dapat meningkatkan produktivitas sekitar 80%, dari 100 ton/ha menjadi 180 ton/ha didukung teknologi Geomembrant yang dapat meningkatkan kualitas garam (lebih putih bersih dan mengkristal keras). Karena itu, hasil analisis usahanya pun sungguh berlipat.


Dengan performa awal seperti itu saya sampai pada kesimpulan optimistis. Begini: "Di masa depan yang dekat, membuat garam cukup di halaman rumah... Teknologi sederhana ... namun bisa jadi solusi konkrit bagi peningkatan pendapatan petani. Tataniaga garam yang temaram, boleh jadi akan terterangi. Semoga!!!" (Lihat link postingan Facebook 20 Maret 2013).
____
Semoga pemanfaatan teknologi Ramsol dan Geomembrant ke depan terus dikembangkan dan diperluas ke wilayah-wilayah produksi yang lain. Melalui teknologi itu, petak-petak garam bahkan bisa dipasang di halaman rumah. Karena terkontrol, boleh jadi masa produksinya juga tidak akan terlalu terkendala oleh musim seperti sekarang ini, sehingga fluktuasi produksi dan harga dapat diatasi.
Tentu saja, selain aspek teknis produksi tersebut, perlu membenahi sistem tataniaganya, agar jerih payah petani garam dapat dihargai selayaknya.
_____
Garam yang asin, siapa tahu suatu ketika akan berbuah manis. Semoga.

OPOSUM

Oposum layang (Petaurus breviceps) adalah sejenis mamalia berkantung asli Indonesia. Berbulu lebat, berwarna coklat keabu-abuan, serta bertubuh mungil (sekitar 12-32 cm dengan panjang ekor 15-48 cm). Bobotnya cuma 4-6 ons, dan terlihat unik dengan kantong yang berada di bagian perut.


Dalam beberapa tahun belakangan ini muncul tren pemeliharaan oposum layang di masyarakat perkotaan. Di pasaran, konon, harganya bisa mencapai Rp3-15 juta/ekor.
Guna melestarikan satwa berkantong asli Indonesia ini, Program Biovillage Pusat Penelitian Biologi-LIPI Cibinong sedang mengembangkan model budidaya oposum layang ini.

PONTIANAK: Kesultanan Kodriyah



Iniah kesultanan Melayu yang didirikan tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, di daerah muara Sungai Kapuas Pontianak.
Ia melakukan dua pernikahan politik di Kalimantan, pertama dengan putri dari Kerajaan Mempawah dan kedua dengan putri dari Kesultanan Banjar (Ratu Syarif Abdul Rahman, putri dari Sultan Tamjidillah I), sehingga ia dianugerahi gelar Pangeran.
Setelah mukim di Pontianak, ia mendirikan Istana Kadriyah dan mendapatkan pengesahan sebagai Sultan Pontianak dari Belanda pada tahun 1779.
Di ruangan dalam istana ini terkesan magis. Tamu hanya berfoto di depan kursi Sultan, tak bisa mendudukinya seperti di Istana Pagaruyung atau Istana Deli.

KELAPA MULTIGUNA



Di luar puja-puji tentang keindahan gemulai nyiur yang melambai di pinggir pantai, Nyiur atau Kelapa (Cocos mucifera) layak dimahkotai sebagai budidaya multiguna.
Dari sekian banyak tumbuhan yang tersebar di negeri ini, rasanya tidak ada tumbuhan lain selain Kelapa yang setiap komponennya tanpa kecuali dapat dimanfaatkan.
Pucuk daunnya yang disebut janur kuning, dapat digunakan sebagai hiasan atau dekorasi pesta-pesta. Daunnya yang sedikit tua dapat digunakan sebagai pembungkus ketupat yang menambah semaraknya suasana lebaran. Lepas dari daunnya, lidi dapat disusun menjadi sapu atau dipotong menjadi tusuk sate atau tusuk daun.
Ketika pohon telah berbunga, dari batang bunga dapat dideres (dihisap) airnya untuk dimasak menjadi gula jawa, sedangkan dari bunganya sendiri (manggar) dapat diolah menjadi bahan gudeg.
Kelapa muda yang disebut cengkir, dahulu digunakan untuk bahan sesaji dalam upacara adat tertentu. Air kelapa muda? Siapa yang belum pernah merasakan nikmatnya ketika diminum pada siang hari yang panas. Buahnya? Tentu saja, bahkan lebih banyak lagi manfaatnya. Selagi muda, dagingnya dapat dimakan mentah, misalnya sebagai campuran air bersih menjadi air santan sebagai bumbu masak yang lezat. Parutan kelapa dapat juga dibuat serundeng, galendo atau campuran penganan lain. Bahkan, daging buah kelapa tua dapat diolah menjadi minyak kelapa, untuk menggoreng, dan sebagainya. Kalau tidak, dapat juga dikeringkan sebagai kopra, agar tahan lama.
Di luar daging, ada tempurung dan sabut. Tempurung dapat dibuat menjadi alat minum, gayung, bahan hiasan, kancing dan sebagainya, bahkan alat bunyi bagi tarian Minangkabau. Arangnya mempunyai kalori yang tinggi, di samping dapat bertahan lama karena kerasnya. Sabutnya dapat dibuat alat-alat rumah tangga seperti kesed, sapu, tali dan sebagainya.
Batang pohonnya yang panjang dan lurus serta kuat, antara lain dapat digunakan sebagai jembatan atau saluran air.
Kelapa memang multiguna.

AMORPHOPHALLUS TITANUM



Meskipun beraroma busuk, bunga bangkai (Amorphophallus titanum) ini mengharumkan nama Indonesia.
Konon pemberian namanya yang aneh itu disebabkan bentuk bunganya yang mirip kelamin pria.
Bunga ini termasuk langka, bukan hanya karena baunya yang menyengat dan ukurannya yang super besar, tetapi juga masa berkembangnya sangat terbatas. Barusan saya lihat di Kebun Raya Bogor, bunganya sudah tak lagi tegak 100%, sekitar 40%nya sudah merunduk. Padahal, baru kemarin siang dikabarkan mulai mekar. Barangkali besok-lusa cuma tinggal batangnya saja. Konon, kita baru bisa melihatnya lagi 2-3 tahun yang akan datang. Bahkan, di beberapa tempat, konon bunganya baru berulang setiap 7-9 tahun.
Saya sendiri baru kali ini melihatnya, padahal sudah 44 tahun mukim di Bogor dan sudah puluhan kali masuk KRB. Beberapa kali ke Kebun Raya Cibodas pun tak sempat melihatnya. Begitu pula dua kali ke Bengkulu tak juga beruntung melihatnya.
Indonesia memang punya kekayaan flora yang luar biasa.

Srikandi

Heru HS, SRIKANDI, Ecosystem Publishing, Surabaya, November 2017, 144 halaman, ISBN 978-602-1527-44-3.
________


Tak percuma di bawah judul buku (Srikandi) tertulis "Novel wayang spiritual". Halnya, dalam novel singkat ini kita diajak berkelana spiritual menjelajah tragedi kehidupan manusia yang senantiasa berlumuran derita, dosa, amarah, cinta, dan asa. Wacana spiritual itu antara lain (sebagian besar) berupa monolog Srikandi yang tak bisa menerima kehadiran Dewi Manohara, yang merampas cinta Arjuna dari dirinya. (Meskipun Srikandi sendiri "merampas" cinta Sang Donyuan Arjuna dari Dewi Ulupi, Subadra, dan Larasati)
Ya, buku ini mengisahkan perjalanan Dewi Srikandi, sejak berbahagia menapaki lakon sebagai isteri Arjuna, hingga proses perubahan jati dirinya menjadi lelaki ksatriya atas bantuan Begawan Stuna. Peristiwa memalukan yang tentu saja melabrak tradisi, hukum, dan agama, sehingga Arjuna berketetapan hati bahwa Srikandi harus dihukum.
Namun demikian, di akhir kisah Arjuna, sang lelaki langit itu, memaafkan Srikandi berkat bisikan Kresna di menit-menit yang genting menjelang Arjuna melepaskan anak panahnya. Sesungguhnyalah nasehat yang sama juga disampaikan sebelumnya oleh Yudhistira dan Semar kepada Arjuna, namun tak diindahkannya karena kemarahannya yang luar biasa.
______
Tentu saja happy ending, ... cerita selanjutnya berlangsung sesuai skenario para dewa, bahwa di kemudian hari, di medan Kurusetra Srikandilah yang akan mengalahkan kehebatan Bisma di kancah Bharayudha sebagai perwujudan supata Dewi Amba di masa lalu, yang cintanya ditolak oleh Bisma.

In Memoriam: Kang INDRAJANA



Saya merasa amat berdosa sejak pertama jumpa Kang Indra. Awal September 2016, dalam rapat ILUNI SMANDA Bogor yang pertama kali saya ikuti di Jl. Taman Malabar 7, saya langsung “menyerang” kepemimpinanannya sebagai Ketua ILUNI SMANDA Bogor. Dengan terengah-engah, beliau merasa harus menjawab sendiri sejumlah pertanyaan yang saya ajukan. Cukup lama, dan tampaknya cukup menyita emosi dan energinya. Sebelum pulang, saya sempat mohon maaf ... Saya baru tahu belakangan, bahwa Kang Indra mengidap penyakit jantung ... Itulah perasaan berdosa yang hingga kini saya rasakan.
Sejak itu saya merasa harus membuktikan kepada beliau bahwa saya bukan hanya tukang kritik, tapi juga bisa bekerja. Karena itu, saya mulai terlibat dalam kegiatan KSB (Komunitas SMANDA Bogor), dimulai dengan senam irama di Taman Heulang pada 10 Desember 2016, yang dihadiri 80 orang alumni lintas angkatan.
Setelah itu, saya juga menerima tawaran Kang Remmy (Wakil Ketua ILUNI) untuk menjadi Ketua Panitia Gathering. Saya masih ingat pada waktu rapat panitia yang pertama, 2 Januari 2017, saya deklarasikan pada teman-teman KSB bahwa Gathering bukan kegiatan KSB melainkan persiapan untuk menggalang kebersamaan menuju Reuni Akbar ILUNI SMANDA Bogor. Rapat pun sepakat, bahwa tema gathering adalah “Menggalang Persahabatan Lintas Angkatan” menuju Reuni Akbar ILUNI SMANDA Bogor.
Kang Indra sangat mendukung langkah yang saya tempuh, bahkan suatu malam dari Papua New Guinea, Kang Indra mengirim WA dan menelepon saya tentang donasinya untuk mendukung acara Gathering. Saya pun berterima kasih atas dukungannya dan meminta beliau agar dapat hadir dan memberikan sambutan pada waktunya.
Alhamdulillah, pada saatnya beliau dapat menghadiri acara gathering di Grand Parahyangan Estate (GPE) pada 19 Februari 2017 itu. Meski sempat diguyur hujan, acara berlangsung cukup meriah, yang dihadiri sekitar 600 orang alumni, termasuk sejumlah alumni dari luar Bogor dan luar Jawa. Saya lihat beliau amat menikmati kebersamaan dalam nyanyian, senam, dan joget.
Ketika beliau bersama Teh Didit (Sekjen) minta izin akan pulang duluan, saya sengaja menahannya. Saya katakan, bahwa Kang Indra-lah yang harus menyerahkan Grandprize sepeda motor sebagai puncak acara. Beliau berkenan, dan itulah yang kemudian terjadi: Saya yang mengambilkan undian dan Kang Indra yang mengumumkan serta menyerahkan hadiahnya, ...
Menjelang pulang Gathering, Kang Indra memeluk saya sambil berbisik, ...
Pelukan dan bisikan yang sama beliau lakukan pada 4 April 2017, saat saya, Kang Remmy, Teh Didit, dan Kang Iman Haryatna bertemu dalam kegiatan “The Old Man Can Jump”, di suatu cafe dekat GOR Pajajaran. Itulah pertemuan saya yang terakhir, ...
Selamat jalan Kang Indra. Kami merasa sangat kehilangan. Undangan untuk bertemu Kang Indra pada 17 November 2017 rupanya tak kesampaian, karena Tuhan berkehendak lain.
Kang Indra yang baik, saya mohon maaf atas segala salah dan khilaf. Insya Allah Kang Indra mendapat tempat terbaik di alam sana. Aamiin.